Ralph Waldo Emerson — 'Live in the sunshine, swim the sea, drink the wild air.'
JULY 5th, 2016
Kami tiba di area parkir penginapan Bajo View setelah jam 6 sore WITA. Tulisan berlampu "Selamat Datang di Labuan Bajo" yg berada di dermaga Labuan Bajo tampak dari kejauhan, seakan memang telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan kami.Yup,, di sinilah kami berada sekarang, di kota pelabuhan Labuan Bajo, tempat para wisatawan dari seluruh sudut dunia berdatangan untuk menikmati keindahan bawah laut, landscape, sekaligus menjadi saksi binatang purba yang telah amat sangat langka di dunia.
Kami menginap di Bajo View, sebuah penginapan di atas bukit yang mengusung tema penginapan berbentuk tenda-tenda.
Hyoiii,, tempat menginap yang biasanya berupa sebuah bangunan berisi kamar-kamar berubah wujud menjadi barisan tenda-tenda. Kami memilih tenda di lantai atas, yaitu tenda yang menghadap ke arah pelabuhan Labuan Bajo. Satu tenda berisi 2 kasur single yang bisa diisi dengan 1 kasur single tambahan, seperti yang kami ber-6 lakukan. Tapi yaaa gitu deh, karena dlm tenda berisi 3 kasur single, otomatis tidak ada lagi space yg tersisa di dalam tenda, jadi pintar-pintarlah mensiasati utk menaruh barang bawaan dan badan di atas kasur seiprit itu hahaaaa.. Kamar mandi dan toilet bersama terletak di lantai bawah. Dalam 1 tenda, dilengkapi 1 kipas angin mini (ga disediakan handuk, sabun, & selimut), tapi karena penginapan ini terletak di atas bukit meskipun terletak tidak jauh dari pantai, udaranya cukup dingin siy, apalagi menjelang subuh. Brrrrr,, badan meringkuk karena cuma bawa selimut tipis alias kain Bali hohohooo..
Yuuukkk dehh langsung cuusss bobo, karena besok pagi kami mau memulai sailing journey kami, can't wait :)
JULY 6th, 2016 - LABUAN BAJO
Pagi hari dari balik tenda, kami disambut pemandangan suasana pelabuhan. Wuiihhh,, kalau bangun tiap pagi disajikan view kaya gini, bakal semangat bangun terus dah heheee..Mandi, packing, dan berburu sarapan yang rada susah karena warung makan atau resto masih pada tutup pagi ini (ohyaa,, pagi ini hari raya Lebaran, jd wajar kl masih pada tutup krn lg pada sholat ied); kami lantas menyiapkan tenaga untuk memanggul carrier segede bagong & cuuusss berjalan kaki menuju pelabuhan PELNI.
![]() |
Pemandangan pagi hari dari tenda kamar kami :) |
Kota Labuan Bajo di pagi hari sudah cukup ramai oleh para jemaah yang pulang dari sholat ied dan juga para turis-turis asing yang berjalan kaki menuju pelabuhan PELNI.
Kota yang sibuk tampaknya.
Namun perbedaan kota ini dengan daerah-daerah lain yang telah kami lewati selama perjalanan keliling Flores dari Ende hingga Waerebo, yaitu dari sisi keramahan penduduknya, heheee.
Sepengamatan & sepengalaman saya, penduduk mulai dari Ende hingga Waerebo sangat ramah, kemurahan senyum & kehangatan sapaan penduduk selalu menghampiri kami. Namun di kota Labuan Bajo, tidak ada lagi "kehangatan" itu, jika saling bertemu yaaa seperti layaknya di kota saja, tidak ada tegur sapa ataupun senyuman, semua lewat begitu saja. Mungkin karena ini adalah kota pelabuhan, tempat di mana penduduknya sudah bercampur & berbaur dari berbagai suku.
Kami tiba di Pelabuhan PELNI jam 8 pagi WITA untuk bertemu dengan Om Ivan yang kapalnya akan kami tumpangi selama 2 hari 1 malam. Kami mendapat kontak Om Ivan dari Pak Robert, sang pemilik Palm Bungalow.
Namun sayang, sepertinya terjadi miskomunikasi antara Om Ivan-Pak Robert-kami. Perundingan mengenai rute yang mau kami tempuh berjalan sangat sangat alot (huuufftttt..), ternyata Om Ivan dengan bayaran kapal yg sudah disetujui memiliki rute sendiri, sedangkan kami juga memiliki keinginan sendiri.
Setelah debat kusir, akhirnya Om Ivan bersedia menambah rute & kami juga mau ga mau harus membatalkan beberapa pulau yg mau kami kunjungi (duuuuhhh,, belum memulai perjalanan melaut aja udah bikin bete gini), karena keterbatasan kecepatan kapal kami (gubraaaaaggg,, mo nangis rasanya, pantesan aja kapal kami murah banget dibandingkan rate kapal lain pada umumnya huhuhuuuu...) .
Sekitar jam 10 pagi WITA kapal kami pun akhirnya mulai berlayar (pfiiiuuuhhh), sambil terus komat kamit berdoa semoga perjalanan melaut kami yang dimulai dengan suasana kurang enak bisa berjalan dengan mulus. Sepanjang perjalanan, kami pun akhirnya menyadari bahwa kapal kami kerapkali didahului oleh kapal-kapal lain, nasiiibbbb... :(
Namun ke-bete-an kami sedikit banyak terobati dengan pemandangan laut yang kami lalui.
Landscape pulau-pulau yang begitu elok, didominasi dengan perbukitan-perbukitan savanna sehingga menghasilkan kontur tinggi rendah pulau yang keren banget. Berkali-kali pula kami menjumpai warna laut yang berbeda-beda, mulai dari biru muda, biru turquoise, dan biru tua. Warna biru langit berpadu dengan gradasi warna biru laut, dikontraskan dengan warna hijau dan coklat sebaran pulau-pulau.
![]() |
Perhatiin deh gradasi warna lautnya, ada segaris warna biru muda, kewl ! |
![]() |
Perhatiin deh gradasi warna lautnya, ada segaris warna biru muda, kewl ! |
JULY 6th, 2016 - PULAU RINCA (LOH BUAYA)
Jam 12.30 siang (akhirnya) kami tiba di Pulau Rinca. Duuuhhh deg2an excited dan deg2an khawatir campur aduk niy, secara mo lihat binatang purbakala, serasa mau memasuki era Jurassic World ;p
Sesampai di pos jaga, keluarin duit utk dikumpulkan ke salah seorang teman kami yg bertugas membeli karcis masuk. Begitu dia selesai beli karcis, kami rada kaget melihat lembaran karcis banyak banget di tangan dia.
Astagaaaa,, ternyata ada 5 jenis karcis boooooo :
- karcis masuk Taman nasional Komodo IDR 7,500 / orang
- karcis untuk tracking, hiking, climbing di Taman Nasional Komodo IDR 5,000 / orang
- karcis pengamatan kehidupan liar di Taman Nasional Komodo IDR 10,000/orang
- karcis masuk terusan ke Pulau Komodo & Pulau Rinca (berlaku hanya untuk 1 hari, meskipun kalian cuma ke salah satu pulau aja tetap aja kudu beli tiket terusan ini) IDR 20,000 / orang
- karcis untuk jasa pemandu alias ranger IDR 80,000 / ranger (dan 1 ranger untuk 5 orang turis. Secara kami ber-6, kami wajib bayar & pakai 2 ranger, eeeeerrrr.. Dan secara hari itu lagi peak season, artinya lagi banyak turis datang, jadi banyak ranger yang lagi bertugas memandu, jadiiii kalau ga mau menunggu lama di pos jaga alias kalau mau langsung trekking meskipun cuma ada 1 ranger yaaa silahkan monggo jalan dengan 1 ranger meskipun lo-lo pada udah bayar 2 ranger. Astaga banget deeehhhh...)
Ada 3 pilihan walking trails di Pulau Rinca ini berdasarkan panjang lintasan yg dijalani : short trekking - medium trekking - long trekking; dan pastinya kami lebih memilih short trekking sajo yang memakan waktu kira-kira 1 jam. Meskipun memilih lintasan yg lebih panjang, tidak menjamin bahwa jumlah komodo yg dijumpai akan lebih banyak; intinya siy untung-untungan laaahhh..
Menurut sang ranger, saat kunjungan kami tsb adalah mating season (musim kawin), jadi mungkin agak susah menjumpai komodo.
- Komodo pertama yg kami jumpai adalah komodo mungil yg berada di dekat pos jaga.
- Komodo kedua yg kami temui berada di bawah kolong dapur. Menurut ranger tsb, komodo memang senang berada di bawah dapur krn mereka menyenangi bau darah. Hiiiiii... pantesan ya kalau wanita lg "berhalangan" sangat dianjurkan tidak ikut trekking atau si wanita harus punya ranger sendiri untuk mendampingi dia doank.
- Komodo ketiga & keempat yg kami temui sedang berada di ruang genset, lagi asyik khusuk kawin hihihiii.. Mnrt ranger, komodo bisa bertahan kawin minimal 6 jam lowh, hooooooo kuat yaaa booooo..
- Komodo kelima kami temui di samping dapur.
- Komodo keenam kami temui adalah komodo cilik di dekat tangga dapur.
Selain komodo,, pemandangan indah bukit-bukit savanna berlatar belakang laut gradasi biru juga menjadi nilai jual dari Pulau Rinca.
![]() |
Ini dia karcis yg harus dibeli, segambreng bener yaaa jumlah lembarannya (-___-") |
![]() |
Tugu "Selamat Datang" di Loh Buaya |
![]() |
Can you spot the little komodo dragon ?? |
![]() |
Can you spot the big komodo dragon under the kitchen room ? |
![]() |
Aaaawwww,, love is in the air, dude .. |
![]() |
The trail |
![]() |
Komodo dragon's nest |
Di atas bukit (Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker ) |
![]() |
Komodo dragon also knows how to spoil him self,, let's sunbathing babe.. |
![]() |
Tertarik foto sama komodo, tapi kaki lemes karena deg2an hahaaa |
![]() |
The lazy komodo dragon |
JULY 6th, 2016 - PANTAI PINK (PINK BEACH)
Kami bertolak dari Pulau Rinca puku 14.30 WITA & melanjutkan pelayaran (tsaaaahhhh..) ke Pantai Pink. Lagi-lagi karena kecepatan kapal yg sangat terbatas (huhuhuuuuu....), kami baru tiba di Pantai Pink jam 16.45 WITA, di saat udah sore banget & para wisatawan lainnya sudah bersiap pulang. Karena kami kesorean banget sampainya sedangkan kami harus pergi ke sisi lain Pulau Komodo untuk menginap, kami hanya punya waktu sampai jam setengah 6 sore saja di pantai ini, whaaaaattttttttt ?????Kapal kami (& kapal2 besar lainnya) tidak boleh bersandar di Pantai Pink untuk melindungi terumbu karang di perairan sekitar pantai, sehingga kami harus menggunakan boat kecil untuk ke Pantai Pink (kalau mau berenang ke pantainya juga boleh-boleh aja siy, tapi yaaa cukup jauh & cape bgt pasti karena arus cukup kencang di sini). Karena kami hanya punya waktu yg sangat singkat, serangan "panik" melanda kami,, mau ngapain dulu niy baiknya : snorkeling, foto-foto, atau naik ke atas bukit ? Aaaaarrggghhhhhh..
Kami putuskan untuk snorkeling terlebih dahulu. Terumbu karang di sini langsung bisa ditemui tidak jauh dari pantai, sehingga harap hati-hati kalau mau menyusuri pantai yg berbatasan dengan laut yaa,, jangan sampai kita menginjak terumbu karang. Meskipun arus kencang sehingga visibility kurang begitu bagus saat itu (kebawa arus melulu niy, cape bgt), namun terumbu karangnya sehat, beraneka warna, dan baguuuuuuuuusssss banget (padahal cuma di sekitaran pantai doank loowhhh..). Sayang kami bukan ahlinya foto2 underwater, lagipula waktu yg sangat sempit ini benar-benar kami nikmati hanya untuk mengagumi keindahan bawah lautnya tanpa perlu repot2 memikirkan foto underwater.
Setelah sedikit puas snorkeling (terpaksa puas lebih tepatnya !!!), kami lalu asik menikmati suasana pantai. Pasirnya jauh lebih pink dibandingkan Pantai Pink (Pantai Tangsi) di Lombok, apalagi saat pasir pantai terbilas oleh hempasan air laut, warna pink-nya semakin tampak. Warna pink dari pantai ini berasal dari campuran pasir putih & serpihan koral-koral berwarna merah yang sudah mati & terbawa ke pantai.
![]() |
Pemandangan dari atas bukit (foto milik sahabat +Introvert Backpacker ) |
Koral merah yg berkontribusi menghasikan warna pink di pantai ini (foto milik sahabat +Introvert Backpacker ) |
Koral yg terlihat dari atas kapal saking jernihnya niy air laut (Foto milik sahabat +Introvert Backpacker ) |
JULY 6th, 2016 - PULAU KOMODO (KAMPUNG NELAYAN)
Kami tiba di perkampungan nelayan, di sisi lain Pulau Komodo, setelah adzan mahgrib berkumandang.Yupp,, awalnya memang kami berencana tidur di perahu, namun karena salah seorang teman kami pusing kalau berada lama di atas kapal yg diam dan karena miskom sedari awal antara Om Ivan & Pak Robert & kami (kapal terlalu kecil untuk ditiduri kami ber-8, keadaan kapal yg lembab, tidak ada penerangan di kapal), akhirnya kami memutuskan untuk menginap di homestay di perkampungan nelayan Pulau Komodo.
Komodo Homestay milik Haji Salang menjadi tempat peristirahatan kami selama 1 malam. Homestay sangat bersih, walaupun kamarnya tidak terlalu besar (tapi terbukti cukup untuk menampung kami ber-6 hahaaa), penataannya sangat apik & suasananya pun nyaman serta bersih. Kamar-kamar yg disewakan terletak di lantai 2, sedangkan rumah keluarga Haji Salang terletak di lantai 1. Kamar mandi yg bisa digunakan ada 2, terletak di lantai 1, dan lagi-lagi sangat bersih & wangi, air bersihnya pun melimpah, benar-benar pas banget setelah seharian badan lengket banget karena terkena udara laut & keringat. Pak Haji Salang tampaknya benar-benar mengetahui bagaimana membuat suatu homestay terasa nyaman : kamar dengan tempat tidur springbed ukuran queen + gantungan baju tertempel di dinding + hanger untuk menjemur baju-baju basah di teras atas + kaca hias + stop kontak yang banyak + kipas angin; kamar mandi dengan wc jongkok + gayung yang bersih + air yg deras dan banyak + tissue toilet + kamper pengharum kamar mandi + sabun cuci tangan. Mantap, gan !!!
Pak Haji Salman pun amat sangat ramah, berpikiran sangat terbuka & modern. Beliau benar-benar memahami bahwa kampungnya sebenarnya memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai kampung wisata ataupun tempat tinggal sementara bagi para turis yg sedang melakukan pelayaran di Kepulauan Komodo. Beliau pulalah sebagai pelopor pertama yg mendirikan homestay di kampung nelayan ini, serta giat mendorong para warga lain untuk berusaha menjaga kebersihan kampung nelayan (karena kambing-kambing piaraan di sini sangat bebas berkeliaran, tak jarang kami melihat kambing duduk di atas bangku teras seperti kucing), juga mendorong para warga mengikuti jejaknya untuk mendirikan homestay yg sederhana namun bersih sebagai sumber pemasukan bagi warga (selain menangkap ikan).
Saat kami menginap di sana adalah Lebaran hari pertama, sehingga Pak Haji Salang pun menyajikan beragam jenis kue yg nikmat ke hadapan kami. Ia bercerita sangat banyak mengenai pulau ini. Menurutnya, kepercayaan warga di sini adalah komodo dan manusia adalah satu keluarga, sehingga manusia tidak boleh mengganggu, melukai, apalagi membunuh komodo, & niscaya komodo pun tidak akan mengganggu manusia yg tinggal di situ. Bahkan menurut Pak Haji, jika ada komodo terlihat mau mendekati kampung nelayan, seseorang cukup melemparkan batu saja ke dekat si komodo (bukan ke badan komodo yaaa), dan sang komodo pun akan pergi menjauh.
Menurut beliau, dahulu kala pernah ada seorang anak yg diserang komodo karena sebelumnya bapak sang anak secara tidak sengaja memasang perangkap & seekor komodo terjerat di dalamnya. Begitu banyak cerita, pandangan hidup, & cita-cita terhadap perkampungan ini yang beliau kemukakan - dan sama sekali tidak membuat kami bosan. Semoga terkabul cita-citanya ya, Pak.
Malam itupun kami tutup dengan mengagumi keindahan langit & bonus milky way-nya yg menakjubkan :)
BUDGET YANG DIROGOH DARI DOMPET & KETERANGAN LAIN :
- Sewa mobil (incl driver & BBM) : IDR 600,000 / hari
- Biaya inap di Bajo View : IDR 110,000/malam/tenda (sea view); IDR 100,000/malam/tenda (non sea view), tidak termasuk makan pagi.
- Makan pagi di Labuan Bajo (mie ayam) : IDR 20,000
- Sewa kapal 2 hari 1 malam (open deck) : IDR 2,500,000
- Karcis masuk Taman nasional Komodo IDR 7,500 / orang
- Karcis untuk tracking, hiking, climbing di Taman Nasional Komodo IDR 5,000 / orang
- Karcis pengamatan kehidupan liar di Taman Nasional Komodo IDR 10,000/orang
- Karcis masuk terusan ke Pulau Komodo & Pulau Rinca (berlaku hanya untuk 1 hari, meskipun kalian cuma ke salah satu pulau aja tetap aja kudu beli tiket terusan ini) IDR 20,000 / orang
- Karcis untuk jasa pemandu alias ranger IDR 80,000 / ranger (1 ranger untuk 5 orang turis).
- Sewa kapal kecil menuju Pantai Pink : IDR 20,000 / orang PP
- Biaya inap di Komodo Homestay : IDR 150,000/malam/kamar
- Waktu tempuh Labuan Bajo - Pulau Rinca : 2,5 jam (cat : kecepatan boat kami)
- Waktu tempuh Pulau Rinca - Pantai Pink : 2 jam 15 min (cat : kecepatan boat kami)
- Waktu tempuh Pantai Pink - Kampung Nelayan : kurang dari 30 min
- CP sewa mobil+driver+BBM dan sewa kapal : Pak Robert (0812 - 2732 - 0223)
- CP Pak Haji Salang (Komodo Homestay) : 082-144-049-754 / 085-237-113-888 (email : aherkomodo@gmail.com). Pak Haji Salang juga menyewakan kapal open deck IDR 3,000,000/hari.
- Selama trekking di Pulau Rinca ataupun Pulau Komodo, jangan bandel, jangan sok-sokan, turuti setiap aturan & perkataan ranger.
- Bagi wanita yg sedang datang bulan pada saat berkunjung ke Pulau Komodo & Pulau Rinca, lebih baik berterus terang pada si ranger, ga usah malu, kan demi keselamatan diri sendiri juga, emang mau dikejar-kejar komodo karena bau kamu sangat menggoda, hiiiiii....
- Kalau mau menyewa kapal, pastikan dulu bagaimana kondisi kapal (jangan sampai cuma mau murah doank tapi dapat kapal yg lambat) & benar-benar komunikasikan terlebih dahulu ke kapten kapal pulau-pulau yg mau kita kunjungi sebelum membuat deal dan melakukan pembayaran.
- Kapal yang beroperasi ada 2 tipe : open deck alias kapal terbuka tanpa kamar tidur dan kapal kabin (ada kamar-kamar tidur di kapal). Kapal kabin pun terbagi 2 : ada yg pakai kipas angin & AC (menurut orang-orang yg kami temui selama perjalanan, kapal kabin ber-AC sangat sangat berisik karena suara genset, jadi bikin susah tidur juga).
- Kalau mau live on board (LOB) alias tinggal (plus tidur & mandi) di kapal selama pelayaran, pastikan apakah kapal memiliki kamar mandi (& WC) dan lihat persediaan air tawar yang mereka bawa dari Labuan Bajo ke atas kapal. Udara laut itu sangat lengket dan lembab, apalagi kita seharian beraktivitas di pulau & laut. Namun walaupun air tawar tersedia, ga mungkin juga bisa bawa banyak dari darat (karena akan menambah beban muatan kapal), sehingga kalau mau mandi benar-benar harus hemat (paling pas yaaa air tawar cuma dipakai utk cuci muka, sikat gigi, BAB/BAK).
- Kalau saya lebih memilih tinggal di homestay seperti yg kami lakukan, tidur jauuuuhhh lebih nyaman dibandingkan di atas kapal & mandi pun bisa puas banget & bersih.
SIMAK JUGA ITINERARY & CERITA LAIN KAMI DI FLORES :
- Hari 1 : Desa Moni (Perhentian Sejenak Pelipur Lelah)
- Hari 2 : Danau Kelimutu (Menanti Pagi Di Batas Langitnya)
- Hari 3 : Riung (Main Air & Bertemu Batman)
- Hari 4 : Sawah Cancar (Spider Web-nya Penduduk Manggarai)
- Hari 4 : Waerebo jilid I (Cinta Pada Pandangan Pertama)
- Hari 5 : Waerebo jilid II (Cinta Pada Pandangan Pertama)
- Hari 7 : Labuan Bajo (Seseruan di Tengah Laut Jilid 2)
0 comments:
Posting Komentar