Tampilkan postingan dengan label snorkeling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label snorkeling. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2016

LABUAN BAJO : SESERUAN DI TENGAH LAUT JILID 1 (DAY 06)

Ralph Waldo Emerson — 'Live in the sunshine, swim the sea, drink the wild air.'


JULY 5th, 2016

Kami tiba di area parkir penginapan Bajo View setelah jam 6 sore WITA. Tulisan berlampu "Selamat Datang di Labuan Bajo" yg berada di dermaga Labuan Bajo tampak dari kejauhan, seakan memang telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan kami.
Yup,, di sinilah kami berada sekarang, di kota pelabuhan Labuan Bajo, tempat para wisatawan dari seluruh sudut dunia berdatangan untuk menikmati keindahan bawah laut, landscape, sekaligus menjadi saksi binatang purba yang telah amat sangat langka di dunia.

Kami menginap di Bajo View, sebuah penginapan di atas bukit yang mengusung tema penginapan berbentuk tenda-tenda.
Hyoiii,, tempat menginap yang biasanya berupa sebuah bangunan berisi kamar-kamar berubah wujud menjadi barisan tenda-tenda. Kami memilih tenda di lantai atas, yaitu tenda yang menghadap ke arah pelabuhan Labuan Bajo. Satu tenda berisi 2 kasur single yang bisa diisi dengan 1 kasur single tambahan, seperti yang kami ber-6 lakukan. Tapi yaaa gitu deh, karena dlm tenda berisi 3 kasur single, otomatis tidak ada lagi space yg tersisa di dalam tenda, jadi pintar-pintarlah mensiasati utk menaruh barang bawaan dan badan di atas kasur seiprit itu hahaaaa.. Kamar mandi dan toilet bersama terletak di lantai bawah. Dalam 1 tenda, dilengkapi 1 kipas angin mini (ga disediakan handuk, sabun, & selimut), tapi karena penginapan ini terletak di atas bukit meskipun terletak tidak jauh dari pantai, udaranya cukup dingin siy, apalagi menjelang subuh. Brrrrr,, badan meringkuk karena cuma bawa selimut tipis alias kain Bali hohohooo..

Yuuukkk dehh langsung cuusss bobo, karena besok pagi kami mau memulai sailing journey kami, can't wait :)


JULY 6th, 2016 - LABUAN BAJO

Pagi hari dari balik tenda, kami disambut pemandangan suasana pelabuhan. Wuiihhh,, kalau bangun tiap pagi disajikan view kaya gini, bakal semangat bangun terus dah heheee..
Mandi, packing, dan berburu sarapan yang rada susah karena warung makan atau resto masih pada tutup pagi ini (ohyaa,, pagi ini hari raya Lebaran, jd wajar kl masih pada tutup krn lg pada sholat ied); kami lantas menyiapkan tenaga untuk memanggul carrier segede bagong & cuuusss berjalan kaki menuju pelabuhan PELNI.

Pemandangan pagi hari dari tenda kamar kami :)

Kota Labuan Bajo di pagi hari sudah cukup ramai oleh para jemaah yang pulang dari sholat ied dan juga para turis-turis asing yang berjalan kaki menuju pelabuhan PELNI.
Kota yang sibuk tampaknya.
Namun perbedaan kota ini dengan daerah-daerah lain yang telah kami lewati selama perjalanan keliling Flores dari Ende hingga Waerebo, yaitu dari sisi keramahan penduduknya, heheee.
Sepengamatan & sepengalaman saya, penduduk mulai dari Ende hingga Waerebo sangat ramah, kemurahan senyum & kehangatan sapaan penduduk selalu menghampiri kami. Namun di kota  Labuan Bajo, tidak ada lagi "kehangatan" itu, jika saling bertemu yaaa seperti layaknya di kota saja, tidak ada tegur sapa ataupun senyuman, semua lewat begitu saja. Mungkin karena ini adalah kota pelabuhan, tempat di mana penduduknya sudah bercampur & berbaur dari berbagai suku.

Kami tiba di Pelabuhan PELNI jam 8 pagi WITA untuk bertemu dengan Om Ivan yang kapalnya akan kami tumpangi selama 2 hari 1 malam. Kami mendapat kontak Om Ivan dari Pak Robert, sang pemilik Palm Bungalow.
Namun sayang, sepertinya terjadi miskomunikasi antara Om Ivan-Pak Robert-kami. Perundingan mengenai rute yang mau kami tempuh berjalan sangat sangat alot (huuufftttt..), ternyata Om Ivan dengan bayaran kapal yg sudah disetujui memiliki rute sendiri, sedangkan kami juga memiliki keinginan sendiri.
Setelah debat kusir, akhirnya Om Ivan bersedia menambah rute & kami juga mau ga mau harus membatalkan beberapa pulau yg mau kami kunjungi (duuuuhhh,, belum memulai perjalanan melaut aja udah bikin bete gini), karena keterbatasan kecepatan kapal kami (gubraaaaaggg,, mo nangis rasanya, pantesan aja kapal kami murah banget dibandingkan rate kapal lain pada umumnya huhuhuuuu...) .

Sekitar jam 10 pagi WITA kapal kami pun akhirnya mulai berlayar (pfiiiuuuhhh), sambil terus komat kamit berdoa semoga perjalanan melaut kami yang dimulai dengan suasana kurang enak bisa berjalan dengan mulus. Sepanjang perjalanan, kami pun akhirnya menyadari bahwa kapal kami kerapkali didahului oleh kapal-kapal lain, nasiiibbbb... :(
Namun ke-bete-an kami sedikit banyak terobati dengan pemandangan laut yang kami lalui.
Landscape pulau-pulau yang begitu elok, didominasi dengan perbukitan-perbukitan savanna sehingga menghasilkan kontur tinggi rendah pulau yang keren banget. Berkali-kali pula kami menjumpai warna laut yang berbeda-beda, mulai dari biru muda, biru turquoise, dan biru tua. Warna biru langit berpadu dengan gradasi warna biru laut, dikontraskan dengan warna hijau dan coklat sebaran pulau-pulau.










Perhatiin deh gradasi warna lautnya, ada segaris warna biru muda, kewl !

Perhatiin deh gradasi warna lautnya, ada segaris warna biru muda, kewl !

JULY 6th, 2016 - PULAU RINCA (LOH BUAYA)



Jam 12.30 siang (akhirnya) kami tiba di Pulau Rinca. Duuuhhh deg2an excited dan deg2an khawatir campur aduk niy, secara mo lihat binatang purbakala, serasa mau memasuki era Jurassic World ;p
Sesampai di pos jaga, keluarin duit utk dikumpulkan ke salah seorang teman kami yg bertugas membeli karcis masuk. Begitu dia selesai beli karcis, kami rada kaget melihat lembaran karcis banyak banget di tangan dia.
Astagaaaa,, ternyata ada 5 jenis karcis boooooo :
  1. karcis masuk Taman nasional Komodo IDR 7,500 / orang
  2. karcis untuk tracking, hiking, climbing di Taman Nasional Komodo IDR 5,000 / orang
  3. karcis pengamatan kehidupan liar di Taman Nasional Komodo IDR 10,000/orang
  4. karcis masuk terusan ke Pulau Komodo & Pulau Rinca (berlaku hanya untuk 1 hari, meskipun kalian cuma ke salah satu pulau aja tetap aja kudu beli tiket terusan ini) IDR 20,000 / orang
  5. karcis untuk jasa pemandu alias ranger IDR 80,000 / ranger (dan 1 ranger untuk 5 orang turis. Secara kami ber-6, kami wajib bayar & pakai 2 ranger, eeeeerrrr.. Dan secara hari itu lagi peak season, artinya lagi banyak turis datang, jadi banyak ranger yang lagi bertugas memandu, jadiiii kalau ga mau menunggu lama di pos jaga alias kalau mau langsung trekking meskipun cuma ada 1 ranger yaaa silahkan monggo jalan dengan 1 ranger meskipun lo-lo pada udah bayar 2 ranger. Astaga banget deeehhhh...) 
So,, jalanlah kami ber-6 dengan seorang ranger yang udah siap sedia dengan "senjatanya" yaitu 1 tongkat kayu yang ujung bawahnya bercabang 2, mirip dengan struktur lidah komodo.
Ada 3 pilihan walking trails di Pulau Rinca ini berdasarkan panjang lintasan yg dijalani : short trekking - medium trekking - long trekking; dan pastinya kami lebih memilih short trekking sajo yang memakan waktu kira-kira 1 jam. Meskipun memilih lintasan yg lebih panjang, tidak menjamin bahwa jumlah komodo yg dijumpai akan lebih banyak; intinya siy untung-untungan laaahhh..

Menurut sang ranger, saat kunjungan kami tsb adalah mating season (musim kawin), jadi mungkin agak susah menjumpai komodo.
  • Komodo pertama yg kami jumpai adalah komodo mungil yg berada di dekat pos jaga.
  • Komodo kedua yg kami temui berada di bawah kolong dapur. Menurut ranger tsb, komodo memang senang berada di bawah dapur krn mereka menyenangi bau darah. Hiiiiii... pantesan ya kalau wanita lg "berhalangan" sangat dianjurkan tidak ikut trekking atau si wanita harus punya ranger sendiri untuk mendampingi dia doank.
  • Komodo ketiga & keempat yg kami temui sedang berada di ruang genset, lagi asyik khusuk kawin hihihiii.. Mnrt ranger, komodo bisa bertahan kawin minimal 6 jam lowh, hooooooo kuat yaaa booooo..
  • Komodo kelima kami temui di samping dapur.
  • Komodo keenam kami temui adalah komodo cilik di dekat tangga dapur.
Komodo yg berada di Pulau Rinca maupun Pulau Komodo adalah hewan liar, sekaligus berbahaya, sehingga para pengunjung (bahkan para ranger sekalipun) harus tetap waspada. Hewan purba ini adalah perenang yg kuat, pelari yang cepat, pemanjat yg handal. Meskipun komodo sedang terlihat santai sembari tertidur, para pengunjung juga harus tetap waspada, ikuti setiap perintah ranger deehh mendingan, ga usah sok-sok jagoan apalagi mau ambil foto dengan gaya yang aneh-aneh. Ranger akan memberi batasan sampai sejauh mana kita bisa mengambil foto komodo, & yg paling penting jangan melakukan gerakan secara tiba-tiba. Kawanan komodo di sini tidak diberi makan seperti hewan piaraan, jadi para komodo harus berburu sendiri di hutan (dan memang kami temui banyak rusa & hewan lain di sini, yaaaa memang alam liar).

Selain komodo,, pemandangan indah bukit-bukit savanna berlatar belakang laut gradasi biru juga menjadi nilai jual dari Pulau Rinca.

Ini dia karcis yg harus dibeli, segambreng bener yaaa jumlah lembarannya (-___-")

Tugu "Selamat Datang" di Loh Buaya





Can you spot the little komodo dragon ??

Can you spot the big komodo dragon under the kitchen room ?

Aaaawwww,, love is in the air, dude ..

The trail

Komodo dragon's nest


Di atas bukit (Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker )

Komodo dragon also knows how to spoil him self,, let's sunbathing babe..

Tertarik foto sama komodo, tapi kaki lemes karena deg2an hahaaa


 
The lazy komodo dragon

JULY 6th, 2016 - PANTAI PINK (PINK BEACH)

Kami bertolak dari Pulau Rinca puku 14.30 WITA & melanjutkan pelayaran (tsaaaahhhh..) ke Pantai Pink. Lagi-lagi karena kecepatan kapal yg sangat terbatas (huhuhuuuuu....), kami baru tiba di Pantai Pink jam 16.45 WITA, di saat udah sore banget & para wisatawan lainnya sudah bersiap pulang. Karena kami kesorean banget sampainya sedangkan kami harus pergi ke sisi lain Pulau Komodo untuk menginap, kami hanya punya waktu sampai jam setengah 6 sore saja di pantai ini, whaaaaattttttttt ?????

Kapal kami (& kapal2 besar lainnya) tidak boleh bersandar di Pantai Pink untuk melindungi terumbu karang di perairan sekitar pantai, sehingga kami harus menggunakan boat kecil untuk ke Pantai Pink (kalau mau berenang ke pantainya juga boleh-boleh aja siy, tapi yaaa cukup jauh & cape bgt pasti karena arus cukup kencang di sini). Karena kami hanya punya waktu yg sangat singkat, serangan "panik" melanda kami,, mau ngapain dulu niy baiknya : snorkeling, foto-foto, atau naik ke atas bukit ? Aaaaarrggghhhhhh..
Kami putuskan untuk snorkeling terlebih dahulu. Terumbu karang di sini langsung bisa ditemui tidak jauh dari pantai, sehingga harap hati-hati kalau mau menyusuri pantai yg berbatasan dengan laut yaa,, jangan sampai kita menginjak terumbu karang. Meskipun arus kencang sehingga visibility kurang begitu bagus saat itu (kebawa arus melulu niy, cape bgt), namun terumbu karangnya sehat, beraneka warna, dan baguuuuuuuuusssss banget (padahal cuma di sekitaran pantai doank loowhhh..). Sayang kami bukan ahlinya foto2 underwater, lagipula waktu yg sangat sempit ini benar-benar kami nikmati hanya untuk mengagumi keindahan bawah lautnya tanpa perlu repot2 memikirkan foto underwater.

Setelah sedikit puas snorkeling (terpaksa puas lebih tepatnya !!!), kami lalu asik menikmati suasana pantai. Pasirnya jauh lebih pink dibandingkan Pantai Pink (Pantai Tangsi) di Lombok, apalagi saat pasir pantai terbilas oleh hempasan air laut, warna pink-nya semakin tampak. Warna pink dari pantai ini berasal dari campuran pasir putih & serpihan koral-koral berwarna merah yang sudah mati & terbawa ke pantai.



Pemandangan dari atas bukit (foto milik sahabat +Introvert Backpacker )

Koral merah yg berkontribusi menghasikan warna pink di pantai ini (foto milik sahabat +Introvert Backpacker )







Koral yg terlihat dari atas kapal saking jernihnya niy air laut (Foto milik sahabat +Introvert Backpacker )

JULY 6th, 2016 - PULAU KOMODO (KAMPUNG NELAYAN)

Kami tiba di perkampungan nelayan, di sisi lain Pulau Komodo, setelah adzan mahgrib berkumandang.
Yupp,, awalnya memang kami berencana tidur di perahu, namun karena salah seorang teman kami pusing kalau berada lama di atas kapal yg diam dan karena miskom sedari awal antara Om Ivan & Pak Robert & kami (kapal terlalu kecil untuk ditiduri kami ber-8, keadaan kapal yg lembab, tidak ada penerangan di kapal), akhirnya kami memutuskan untuk menginap di homestay di perkampungan nelayan Pulau Komodo.

Komodo Homestay milik Haji Salang menjadi tempat peristirahatan kami selama 1 malam. Homestay sangat bersih, walaupun kamarnya tidak terlalu besar (tapi terbukti cukup untuk menampung kami ber-6 hahaaa), penataannya sangat apik & suasananya pun nyaman serta bersih. Kamar-kamar yg disewakan terletak di lantai 2, sedangkan rumah keluarga Haji Salang terletak di lantai 1. Kamar mandi yg bisa digunakan ada 2, terletak di lantai 1, dan lagi-lagi sangat bersih & wangi, air bersihnya pun melimpah, benar-benar pas banget setelah seharian badan lengket banget karena terkena udara laut & keringat. Pak Haji Salang tampaknya benar-benar mengetahui bagaimana membuat suatu homestay terasa nyaman : kamar dengan tempat tidur springbed ukuran queen + gantungan baju tertempel di dinding + hanger untuk menjemur baju-baju basah di teras atas + kaca hias + stop kontak yang banyak + kipas angin; kamar mandi dengan wc jongkok + gayung yang bersih + air yg deras dan banyak + tissue toilet + kamper pengharum kamar mandi + sabun cuci tangan. Mantap, gan !!!

Pak Haji Salman pun amat sangat ramah, berpikiran sangat terbuka & modern. Beliau benar-benar memahami bahwa kampungnya sebenarnya memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai kampung wisata ataupun tempat tinggal sementara bagi para turis yg sedang melakukan pelayaran di Kepulauan Komodo. Beliau pulalah sebagai pelopor pertama yg mendirikan homestay di kampung nelayan ini, serta giat mendorong para warga lain untuk berusaha menjaga kebersihan kampung nelayan (karena kambing-kambing piaraan di sini sangat bebas berkeliaran, tak jarang kami melihat kambing duduk di atas bangku teras seperti kucing), juga mendorong para warga mengikuti jejaknya untuk mendirikan homestay yg sederhana namun bersih sebagai sumber pemasukan bagi warga (selain menangkap ikan).

Saat kami menginap di sana adalah Lebaran hari pertama, sehingga Pak Haji Salang pun menyajikan beragam jenis kue yg nikmat ke hadapan kami. Ia bercerita sangat banyak mengenai pulau ini. Menurutnya, kepercayaan warga di sini adalah komodo dan manusia adalah satu keluarga, sehingga manusia tidak boleh mengganggu, melukai, apalagi membunuh komodo, & niscaya komodo pun tidak akan mengganggu manusia yg tinggal di situ. Bahkan menurut Pak Haji, jika ada komodo terlihat mau mendekati kampung nelayan, seseorang cukup melemparkan batu saja ke dekat si komodo (bukan ke badan komodo yaaa), dan sang komodo pun akan pergi menjauh.
Menurut beliau, dahulu kala pernah ada seorang anak yg diserang komodo karena sebelumnya bapak sang anak secara tidak sengaja memasang perangkap & seekor komodo terjerat di dalamnya. Begitu banyak cerita, pandangan hidup, & cita-cita terhadap perkampungan ini yang beliau kemukakan - dan sama sekali tidak membuat kami bosan. Semoga terkabul cita-citanya ya, Pak.

Malam itupun kami tutup dengan mengagumi keindahan langit & bonus milky way-nya yg menakjubkan :)





BUDGET YANG DIROGOH DARI DOMPET & KETERANGAN LAIN :

  • Sewa mobil (incl driver & BBM) : IDR 600,000 / hari
  • Biaya inap di Bajo View : IDR 110,000/malam/tenda (sea view); IDR 100,000/malam/tenda (non sea view), tidak termasuk makan pagi.
  • Makan pagi di Labuan Bajo (mie ayam) : IDR 20,000
  • Sewa kapal 2 hari 1 malam (open deck) : IDR 2,500,000
  • Karcis masuk Taman nasional Komodo IDR 7,500 / orang
  • Karcis untuk tracking, hiking, climbing di Taman Nasional Komodo IDR 5,000 / orang
  • Karcis pengamatan kehidupan liar di Taman Nasional Komodo IDR 10,000/orang
  • Karcis masuk terusan ke Pulau Komodo & Pulau Rinca (berlaku hanya untuk 1 hari, meskipun kalian cuma ke salah satu pulau aja tetap aja kudu beli tiket terusan ini) IDR 20,000 / orang
  • Karcis untuk jasa pemandu alias ranger IDR 80,000 / ranger (1 ranger untuk 5 orang turis)
  • Sewa kapal kecil menuju Pantai Pink : IDR 20,000 / orang PP
  • Biaya inap di Komodo Homestay : IDR 150,000/malam/kamar
  • Waktu tempuh Labuan Bajo - Pulau Rinca : 2,5 jam (cat : kecepatan boat kami)
  • Waktu tempuh Pulau Rinca - Pantai Pink : 2 jam 15 min (cat : kecepatan boat kami)
  • Waktu tempuh Pantai Pink - Kampung Nelayan : kurang dari 30 min
  • CP sewa mobil+driver+BBM dan sewa kapal : Pak Robert (0812 - 2732 - 0223)
  • CP Pak Haji Salang (Komodo Homestay) : 082-144-049-754 / 085-237-113-888 (email : aherkomodo@gmail.com). Pak Haji Salang juga menyewakan kapal open deck IDR 3,000,000/hari.
  • Selama trekking di Pulau Rinca ataupun Pulau Komodo, jangan bandel, jangan sok-sokan, turuti setiap aturan & perkataan ranger.
  • Bagi wanita yg sedang datang bulan pada saat berkunjung ke Pulau Komodo & Pulau Rinca, lebih baik berterus terang pada si ranger, ga usah malu, kan demi keselamatan diri sendiri juga, emang mau dikejar-kejar komodo karena bau kamu sangat menggoda, hiiiiii....
  • Kalau mau menyewa kapal, pastikan dulu bagaimana kondisi kapal (jangan sampai cuma mau murah doank tapi dapat kapal yg lambat) & benar-benar komunikasikan terlebih dahulu ke kapten kapal pulau-pulau yg mau kita kunjungi sebelum membuat deal dan melakukan pembayaran.
  • Kapal yang beroperasi ada 2 tipe : open deck alias kapal terbuka tanpa kamar tidur dan kapal kabin (ada kamar-kamar tidur di kapal). Kapal kabin pun terbagi 2 : ada yg pakai kipas angin & AC (menurut orang-orang yg kami temui selama perjalanan, kapal kabin ber-AC sangat sangat berisik karena suara genset, jadi bikin susah tidur juga).
  • Kalau mau live on board (LOB) alias tinggal (plus tidur & mandi) di kapal selama pelayaran, pastikan apakah kapal memiliki kamar mandi (& WC) dan lihat persediaan air tawar yang mereka bawa dari Labuan Bajo ke atas kapal. Udara laut itu sangat lengket dan lembab, apalagi kita seharian beraktivitas di pulau & laut. Namun walaupun air tawar tersedia, ga mungkin juga bisa bawa banyak dari darat (karena akan menambah beban muatan kapal), sehingga kalau mau mandi benar-benar harus hemat (paling pas yaaa air tawar cuma dipakai utk cuci muka, sikat gigi, BAB/BAK).
  • Kalau saya lebih memilih tinggal di homestay seperti yg kami lakukan, tidur jauuuuhhh lebih nyaman dibandingkan di atas kapal & mandi pun bisa puas banget & bersih  

SIMAK JUGA ITINERARY & CERITA LAIN KAMI DI FLORES :


PETA OUR SAILING JOURNEY :








Rabu, 03 Agustus 2016

RIUNG : Main Air & Bertemu "Batman" (Day 03)

I’m Happiest When Floating In The Sea - Travel Quotes

JULY 2nd, 2016

Setelah mengakhiri Kelimutu trip yg menyenangkan, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Riung, kali ini & seterusnya Bang Yos yg pendiam namun baik hati banget yg bakal jadi driver kami.
Riung ini awalnya belum pernah saya dengar sebelumnya, mungkin masih kurang tenar atau saya yg kurang gaul ttg per-Flores-an hahaaa,, awalnya pun tidak kami masukkan ke itinerary. Namun nasib berkata lain :D,, ga sengaja lagi intip blog-nya Satya Winnie pas beliau berkunjung ke Riung & foto2nya sukses bikin mupeng,, jadi yup fixed langsung masukin Riung ke itinerary kami.

Dari Desa Moni, kami harus kembali lagi ke Ende (2 jam perjalanan), karena rencananya pengen bgt ke Museum Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, tapi sayaaaaaaang,, museumnya tutup kalo weekend huhuhuuuuuu.. Jadi cuma bisa termangu doank di depan pagar museum :'(

Ini penampakan depan Museum Rumah Pengasingan Bung Karno, foto milik sahabat saya +Introvert Backpacker 

Dari Kota Ende, kami menuju ke Mbay, yg perjalanannya makan waktu kurleb 2 jam, dilanjutkan dari Mbay ke Riung selama kurleb 1 jam. Tapi ga kerasa banget, karena pemandangan laut & landscape Flores, terutama savanna-nya ga pernah bikin bete.

Jangan lupa ke spot di mana kita bisa lihat Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dari atas bukit yaa (sesaat sebelum memasuki kota Riung), pemandangannya asli cantik bgt, bikin speechless dunk.
Gradasi warna biru air laut yang tenang di depan mata, sedangkan di belakang kami berdiri anggun bukit-bukit & bentangan savanna, perpaduan warna hijau dan coklat; ditemani dengan heningnya suasana sambil sesekali terdengar bunyi kicauan burung, sungguh sore yang mempesona !!!



 


Savanna indah di mana-mana

Biar ga pegel kaki, foto-foto dulu lah yaaa.. Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker 



Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit


Doing silly pose on the hill ahahaaa (foto milik +Introvert Backpacker )

Kami tiba di Riung, sebuah desa kecil nan sunyi, kira-kira sekitar jam 4 sore WITA.
Di Riung, kami menginap di Pondok SVD, sebuah penginapan asri yang dikelola oleh serikat Katolik ordo SVD.
Penginapan satu lantai ini kami yakini sebagai penginapan terbagus yg kami kunjungi selama perjalanan keliling Flores selama 7 hari hahaaa, bersih banget. Kamarnya juga cukup luas, 1 kamar terdiri dari 1 double bed dan 1 single bed, 1 meja, 1 meja rias, kamar mandi di dalam dengan toilet duduk dan shower, airnya bersih & melimpah, bisa pilih mau kamar ber-AC atau kipas angin. Riung adalah desa yg terletak di pesisir pantai, jadi bisa dipastikan udaranya cukup bikin gerah, makanya kami pilih kamar ber-AC (dan juga selisih harganya ga terlalu jauh dengan kamar yg menggunakan kipas angin).
Fasilitas lainnya ada teras depan kamar, jemuran (lumayan bisa jemur pakaian basah abis nyebur2 di laut di taman penginapan hahaa,, serasa lagi kost), dapat breakfast, disediakan sabun dan handuk. Nikmat mana lagi yang mau kau dustakan hehee..

Abis meneguk teh hangat & letakin tas plus ngobrol dengan Pak Oeden yang besok akan menghantarkan kami naik boat berkeliling pulau, kami langsung jalan kaki menuju ke dermaga untuk menyaksikan matahari terbenam (sunset). Jalan kaki dari penginapan ke dermaga yaaahh kira-kira 20 menitan kali ya.

Kami makan malam di RM Murah Meriah, jalan kaki hanya 5 menit sajo dari Pondok SVD (oiyaaa,, jangan lupa bawa lotion anti nyamuk, kalo malam nyamuknya cukup banyak).
Di RM Murah Meriah wajib cicipin sup ikan segarnya, ueennnaaakk bgt, sedikit pedas namun segar banget, ikannya juga cukup melimpah, ga pelit hahaa. Harganya seingat saya IDR 35,000 per porsi. Tapi pelayanannya cukup lama, entah karena pegawainya cuma sedikit (kayanya cuma 2 orang), atau karena saat itu ada 4 rombongan yg lagi makan di situ.

Perjalanan menuju dermaga

Dermaga Riung yang mungil

Sunset di dermaga Riung (foto milik sahabat : +Introvert Backpacker )

Sunset di dermaga Riung (foto milik sahabat : +Introvert Backpacker )

JULY 3rd, 2016

Setelah sarapan di penginapan (lagi-lagi dapat sarapan banana pancake lowh, sama seperti di Desa Moni hihihii..), sekitar jam 6 lewat WITA kami bergegas jalan kaki menuju dermaga Riung.
Untuk  ngapain ?? Yaaa untuk island hopping di Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung. Yaaaayyy..
Sebenarnya Taman Laut Riung memiliki lebih dari 17 pulau kecil, namun untuk mempermudah ingatan, maka disebutlah Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung, yg angka 17-nya diambil dari tanggal kemerdekaan negara Indonesia.
Kami menyewa kapal dari Pak Oeden yg no telp-nya kami dapatkan dari Ibu Ririn, sang pengurus Pondok SVD. Namun sayangnya, kami hanya punya waktu sampai jam 12 siang huhuhuuuu,, karena kami harus mengejar perjalanan menuju ke Ruteng jika ga mau kemalaman banget sampai di Ruteng.


Muka-muka bahagia mau island hopping (foto milik +Introvert Backpacker )

Crystal clear sea water



Pak Oeden, the captain






Do u want to fulfill ur childhood imagination ? Do u want to get closer to "Batman" ?
Ahahaaa,, kalau jawabannya "ya", let's meet "batman", penghuni Pulau Ontoloe atau lebih dikenal dengan Pulau Kalong. Pulau yang sebagian besar terdiri dari pohon bakau memang menjadi rumah bagi para kalong.
Awalnya saat menuju pulau tsb, kami kira pohon-pohon di situ ditumbuhi dengan daun-daun berbentuk aneh berwarna hitam. Semakin mendekat ke pulau, baru sadarlah kami bahwa itu adalah segerombolan besar kalong yang sedang bergelantungan di dahan-dahan pohon, lagi bobo pagi. Setau saya, kalong itu kalau mau bobo, lebih memilih bergelantungan di tempat gelap, tapi yang ini beda yakk, mereka lebih memilih bergelantungan di dahan pohon di area terbuka yang terkena sinar matahari. Hmmm,, mungkin sembari bobo, mereka juga sekalian sunbathing kalee yaaa..






Setelah takjub melihat penampilan kalong dari dekat, kami beranjak ke spot kedua yaitu Pulau Tembang atau Pulau Tampa. Kami tidak mendaratkan kapal ke pulau ini, tapi hanya snorkeling di perairan sekitar pulau itu. Airnya jernih banget, terumbu karang dan koralnya cukup cantik & bervariasi warnanya, ikannya juga cukup beragam, & dengan mudahnya menemui bintang laut berwarna biru di dasar laut. Kami snorkeling "serius" di sini sekitar setengah jam, sisanya kebanyakan ketawa ketiwi hahaa.


Spot ketiga yang kami kunjungi adalah Pulau Tiga, kata Pak Oeden kenapa disebut Pulau Tiga karena pulau ini memiliki 3 bukit. Setelah kapal merapat ke pantainya, Pak Oeden dan Om Yos sang driver langsung bersiap-siap untuk memasak ikan & cumi bakar. Awalnya kami ingin snorkeling juga di sekitar pulau ini, namun menurut Pak Oeden spot yang bagus adalah spot di sisi kiri kami yang saat itu gelombangnya sedang cukup besar & air juga sedang pasang, jadi kami memilih untuk bermain air di sekitar kapal saja. Di sekitar kapal, ombak tidak terlalu besar, lagipula airnya jernih banget bergradasi biru berpadu dengan dasar laut yang berpasir putih halus. Puas rasanya bermain air di sini plus foto-foto dalam air karena airnya bening.

Pulau Tiga & pemandangan sekitarnya memang cantiiikkkk banget. Pulau Tiga memiliki pantai dengan butiran pasir halus berwarna putih, sehingga nyaman banget untuk dijalani. Duduk di bawah naungan pohon rindangya pun juga asyik, di depan mata terpampang laut biru yang tenang dengan gradasi warna birunya yang dikontraskan dengan landscape Pulau Flores yang didominasi dengan bukit-bukit savanna berwarna hijau dan coklat.

Ga kerasa udah jam 11 siang, dan menu makan siang pun udah tersedia. Ya Tuhan, bau ikan bakar & cumi bakarnya harum bangeeeettt, bikin perut langsung bunyi, liur langsung netes, mouth-watering bangeeettt hahaaa.. Ikan & cumi bakarnya segar ga ada bau amis sama sekali, daging putihnya "manis" seperti ciri sajian laut yg masih segar, dan bumbunya menyerap bangeeetttttttt. Ga sampai setengah jam, hidangan ikan & cumi bakar langsung ludeeesss, bumbunya juga habis dijilatin, durinya habis digigitin, ahahahaaa.... (lapar atau maruk yak..).
PS : Maaf ya Pak Oetam, kami makan dengan lahap di depan bapak, padahal bapak lagi puasa, tapi sueerrr bapak emang T..O..P.. B..G..T.. !!!

Jam 12 siang, dari Pulau Tiga kami langsung kembali ke dermaga Riung, buru-buru ke Pondok SVD untuk mandi, karena kami harus langsung bersegera melanjutkan perjalanan ke Ruteng.
See you, beautiful Riung..









Foto milik sahabat : +Kevin Hendharta 

Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker 
Foto milik sahabat +Kevin Hendharta 

Foto milik sahabat : +Kevin Hendharta 

Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker

Pak Oeden dengan ikan yang akan menjadi santap siang kami

Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker

Ikan bakar & cumi bakarnya maknyoooosss banget, bumbunya nyerap sekali. Pak Oeden emang master chef niy kayanya (Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker)


 Oiya,, ini gambaran Pondok SVD yang kami huni selama 1 malam :








BUDGET YANG DIROGOH DARI DOMPET & KETERANGAN LAIN :

  • Sewa mobil : IDR 600,000 / hari
  • Biaya inap Pondok SVD : IDR 350,000 / malam (double room, AC, incl breakfast)
  • HTM Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung : IDR 5,000 / orang
  • Makan malam di RM Murah Meriah - Riung : IDR 35,000 / porsi sup ikan segar
  • Sewa kapal Riung : IDR 500,000
  • Sewa peralatan snorkeling : IDR 25,000 / unit
  • Biaya makan siang (bakar ikan di pulau) : IDR 50,000 / orang
  • Tips untuk Pak Oeden : IDR 50,000
  • Waktu tempuh Desa Moni - Ende : 2 jam
  • Waktu tempuh Ende - Mbay : 2 jam
  • Waktu tempuh Mbay - Riung : 1 jam
  • Waktu tempuh Riung - Ruteng : 9 jam
  • CP Pondok SVD : Ibu Ririn (0813 - 3934 - 1572)
  • CP kapal di Riung : Pak Oeden (0813 - 3717 - 0473)
  • CP sewa mobil+driver+BBM : Pak Robert (0812 - 2732 - 0223)
  • Kalau bisa, please bgt, begitu sudah sampai di Pulau Kalong (Pulau Ontoloe), jgn sengaja bikin keributan untuk bangunin kalong-kalongnya ya (entah itu dgn suara mesin perahu, pukul2 air, atau teriak2). Kasihan kalong2 tsb. Itu kan habitat aslinya, tempat tinggal mereka, jadi jangan diganggu aktivitasnya. Kalian juga ga mau kan kalau lg asik bersantai atau bobo cantik trus digangguin, heheee.. Respect yourself, respect others :)

SIMAK JUGA ITINERARY & CERITA LAIN KAMI DI FLORES :