“The magic thing about home is that it feels good to leave, and it feels even better to come back.”
― Wendy Wunder, The Probability of Miracles
Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker |
JULY 4th, 2016
Puas melihat keajaiban bentuk sawah Cancar di Ruteng, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Desa Denge, karena malam ini kami berencana menginap di Desa Waerebo. Waktu tempuh dari Sawah Cancar menuju Desa Denge kira-kira 3,5 jam; dan lagi-lagi perjalanan jauh yang ditempuh ini tidak juga menimbulkan kebosanan karena pemandangan laut yg sanggup menghibur mata, meskipun ada beberapa bagian jalan yang rusak.Kami menyusuri jalan sepanjang pantai, dengan Laut Sawu yang membiru menjadi teman perjalanan kami; dan ada satu pulau berdiri memanjang nun jauh di seberang yang cukup bikin eye catching, Pulau Mules (namanya unik yaa hehee..).
![]() |
Laut Sawu |
![]() |
Laut Sawu |
![]() |
Laut Sawu |
![]() |
Tampak di seberang adalah Pulau Mules |
![]() |
Tampak di kejauhan adalah Pulau Mules |
Tampak di seberang adalah Pulau Mules |
Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker |
Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker |
Tampak di seberang adalah Pulau Mules (foto milik sahabat : +Introvert Backpacker ) |
Sekitar tengah hari, kami tiba di Desa Denge, di rumah Bapak Blasius Monta, namun saat itu Pak Blasius sedang tidak ada, jadi kami disambut oleh kehangatan senyum sang istri.
Duduk-duduk santai dulu di dalam rumah Pak Blasius yang cukup adem sambil meluruskan kaki dan menyiapkan tenaga, sementara istri Pak Blasius menyiapkan makan siang untuk kami. Makan siang kami cukup sederhana : nasi jagung (beras campur jagung), sayur daun singkong campur kacang hijau, telur dadar, (indo)mie goreng, dan sambal pedas; ditemani dengan kopi Flores panas.
Utk menu yang cukup sederhana ini dihargai IDR 35,000 / orang (plus kopi/teh IDR 5,000 / cangkir), memang terasa agak mahal (bahkan Pak Matheus, porter sekaligus pemandu kami pun, mengakui bahwa harga makanan tsb kemahalan heheeee...), tapi tempat makan di desa ini yaa cuma di sini. Jadi kalau mau agak hemat, sebelum sampai di Desa Denge, mungkin lebih baik beli bekal makan siang dulu kali ya, trus dikotakin (lagi-lagi ini saran Pak Matheus hohoo..).
Kalau kita sampainya kemalaman di Desa Denge (dan memang kalau tiba kemalaman, sangat dianjurkan utk TIDAK meneruskan perjalanan ke Waerebo), kita bisa menginap di homestay Wejang Asih milik Pak Blasius, dengan tarif IDR 200,000 / orang / malam (termasuk makan).
Bisa juga menginap di Desa Dintor (desa di bawah Desa Denge), di homestay Waerebo Lodge milik Pak Martinus Anggo (tapi kami tidak tau tarifnya).
Setelah selesai makan siang, beberes daypack untuk dibawa ke Waerebo (bawa pakaian hangat saja sama satu stel pakaian ganti, jas hujan sekali pakai utk antisipasi kalau hujan, plus botol minum), mengentaskan urusan ke toilet (daripada ntar buang air kecil di hutan hehe); kami meluncur menuju Desa Waerebo (yaaa jalan kaki laaahh) kira-kira jam setengah 2 WITA ditemani dengan Pak Matheus selaku porter & pemandu kami.
Cuuuuusss....
Rumah Pak Blasius |
DESA DENGE >> POS 1 (WAE LOMBA)
Starting point jalur trekking kami adalah dari Desa Denge, sesaat sebelum sungai pertama. Dari rumah Pak Blasius menuju sungai, kami dihantarkan naik mobil. Dari sungai pertama, kami berjalan kaki menuju pos 1 (Wae Lomba) selama kurang lebih 1 jam. Sebenarnya mulai tahun ini, mobil & motor bisa terus naik sampai ke pos 1 karena jalanan sudah diaspal. Namun karena adanya longsor akibat hujan deras, maka akses jalan dari sungai ke pos 1 terputus, sehingga jalanan rusak ini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau naik motor (ojek). Kalau mau naik ojek dari sungai pertama sampai pos 1, ongkosnya IDR 20,000.Perjalanan cukup berat menurut kami, karena selain jalanan yang menanjak teruuuusss, jalanannya pun bukan berupa jalan tanah namun aspal, sehingga bikin gampang cape; ditambah lagi dengan sengatan sinar matahari yang cukup tajam. Oia, perjalanan dari sungai pertama menuju pos 1 belum berada di bawah naungan hutan lebat.
Pos 1 (Wae Lomba) berada setelah kita menyeberangi sungai ke-2 yang sedang ada pembangunan jembatan, & sdh mulai dinaungi pohon-pohon tinggi nan lebat. Maree istirahat dulu di pos 1.
Ini dia pos 1 -nya (Wae Lomba) |
POS 1 (WAE LOMBA) >> POS 2 (POCO ROKO)
Badan udah segar dikit, cuuusss lanjut lagi ke pos 2.Mulai dari sini, kami sudah memasuki jalur tanah berpayungkan pohon-pohon tinggi & lebat, sinar matahari juga sudah mulai terhalang sehingga sengatan matahari tidak terasa lagi & udara juga sudah terasa sejuk. Jalan tanah itu terus mendaki, untungnya lagi ga musim hujan. Kalau musim hujan, bisa dipastikan tanah becek & licin serta banyak pacet.
Kami sudah mulai menghitung nafas alias ngos-ngosan hahaaa karena jalan menaik terus.
Beberapa kali kami bertemu dengan warga lokal yang hendak turun ataupun naik ke Desa Waerebo, mereka langsung tersenyum & menyapa kami, tidak jarang juga mengajak berjabat tangan erat, sambil memberikan semangat pada kami.
Wooowww mereka keren bgt, selain karena keramah tamahan yg luar biasa, langkah mereka naik turun hutan ini terlihat ringan sekali padahal mereka sedang memikul & menenteng barang-barang berat (beras, ikan, minyak goreng, dll), sedangkan kami.... yaaaa gitu deeehhh hahaa..
Setelah perjalanan cukup melelahkan dari pos 1, kami tiba juga di pos 2 (Poco Roko), yaaaayyyy.. Jarak tempuh (dari pos 1 ke pos 2) sepanjang 2.4 km kami jalani selama kurang lebih 1 jam,, semangaaaattt kakaaakkk..
Di pos 2 ini adem banget, adem di mata, adem di hati, adem juga di badan hehee.. Di pos 2 dibuat semacam pagar pembatas, karena pos ini langsung berhadapan dengan jurang yang menganga lebar. Pemandangannya kereeeenn,, jajaran hutan lebat yang diselimuti oleh kabut tipis putih, magic !!!
![]() |
Medan menuju pos 2 |
![]() |
Medan menuju pos 2 |
Pemandangan di pos 2 (foto milik sahabat +Introvert Backpacker ) |
![]() |
Pemandangan di pos 2 |
![]() |
Pemandangan di pos 2 |
![]() |
Pemandangan di pos 2 |
![]() |
Pemandangan di pos 2 |
![]() |
Pemandangan di pos 2 |
Pemandangan di pos 2 |
Pemandangan di pos 2 (foto milik sahabat +Introvert Backpacker ) |
POS 2 (POCO ROKO) >> POS 3 (RUMAH KASIH IBU)
Perkataan Bapak Matheus saat kami beranjak dari pos 2 cukup meringankan hati & badan, karena menurut beliau jalan menuju pos 3 walaupun lebih panjang, tapi tidak menanjak lagi. Alhamdulilah... Karena jalanan sudah mulai mendatar, kicauan suara canda kami sudah mulai terdengar lagi hahaaa & kecepatan berjalan juga sudah sedikiiiiitt meningkat :DLagi-lagi kami harus melewati sungai dengan meniti jembatan yang terbuat dari jalinan bambu yang tampaknya cukup kuat hehee..
Akhirnya kami tiba di pos 3 (Rumah Kasih Ibu), jarak tempuh dari pos 2 ke pos 3 sepanjang 2.6 km dan kami tempuh selama kurang lebih 1 jam. Pos 3 berbentuk seperti rumah persinggahan sementara, rumah panggung beratap ilalang berbentuk kerucut tinggi yang hampir seperti rumah adat Waerebo.
Di pos 3 terdapat semacam kentungan kayu, dan salah seorang dari kami lalu memukul kentungan tsb, untuk memberi tanda kepada warga Waerebo bahwa akan datang tamu ke desa mereka.
Dari pos 3 kita sudah bisa melihat desa mungil Waerebo nan indah yg berada di cekungan lembah dikelilingi perbukitan hijau, tampak menawan. Saya speechless, ya Tuhan ga lama lagi saya akan menginjakkan kaki di desa indah ini, desa yg selama ini hanya sanggup saya lihat dari blog-blog orang lain saja, yang selama ini hanya sanggup bercokol dalam impian semata. And then, I was crying tears of joy (again) :')
POS 3 (RUMAH KASIH IBU) - DESA WAEREBO
Dari pos 3 ke Desa Waerebo hanyalah perjalanan singkat saja, jalannya pun sudah menurun. Waktu tempuh hanya kira-kira 10-15 menit. Di kanan kiri, kami melalui ladang-ladang kopi milik warga Waerebo, & tak lupa teriakan ramah warga yang sedang berada di ladang kopi menyelingi perjalanan kami.Sesampainya di gerbang desa, entah kenapa spontan kaki saya gemetar, bukan gemetar lelah, tapi lebih karena rasa takjub & syukur yang bergemuruh memenuhi hati saya (iiihh lagi-lagi saya dramaqueen, tapi ini yg memang saya rasakan).
Sebelum memasuki kampung, Pak Matheus memakai sarung khas mereka & "meminta" uang upacara adat sebesar IDR 50,000 kepada rombongan kami.
DESA WAEREBO
Kami langsung dituntun masuk ke rumah terbesar yang disebut Rumah Gendang, tempat di mana sang tetua adat (Pak Rofinus) telah menunggu kami untuk melaksanakan upacara penyambutan yang disebut Wae Lu'u. Di dalam rumah itu ternyata sudah ada rombongan kecil dari Ruteng. Kami langsung duduk di bantal tikar pandan yang hangat & empuk, dengan posisi menghadap sang tetua adat. Duuuhhh,, plong bgt rasanya bisa duduk nyaman gini.Setelah Pak Matheus menyerahkan uang upacara adat kepada sang tetua adat (yang langsung diselipkan di bawah tikar hehee..), upacara pun dimulai dengan menggunakan bahasa Manggarai (kami cuma pasang senyum, sesekali angguk kepala sotoy, trus menatap bengong, lhaaaa kan kaga ngarti hehe). Beres Pak Rofinus panjang lebar berbicara, Pak Matheus lantas menterjemahkannya kepada kami, bahwa upacara Wae Lu'u ini merupakan upacara penyambutan, bahwa mereka menerima kami di sini dan artinya mereka telah menganggap kami sebagai warga Waerebo, juga sebagai upacara untuk memanjatkan doa permohonan agar kami senantiasa dilindungi selama berada di desa ini dan setelah pulang dari desa ini nantinya.
Setelah upacara selesai, kamipun meminta ijin untuk berfoto bersama dengan Pak Rofinus sang tetua adat, sambil tak henti-hentinya takjub mengamati setiap detail rumah adat, UNIK.
- Kami dipandu untuk menuju ke salah satu Mbaru Niang yang letaknya paling ujung kanan (katanya 1 Mbaru Niang bisa menampung sampai 80 tamu), di sinilah rumah yang dikhususkan untuk tempat menginap para tamu (sehingga dapur pun tidak berada di tengah-tengah rumah, melainkan berupa bangunan di luar rumah).
- Tempat tidur disusun secara melingkar menghadap ke arah bongkok (tiang utama bangunan).
- Tempat tidur terdiri dari kasur tipis berlapiskan tikar pandan, dilengkapi dengan bantal (yang juga berlapiskan tikar pandan) & selimut; jadi bobonya cukup hangat. Tapi kalau merasa kurang nyaman, yaaa bawa aja sleeping bag seperti kami heheee..
- Kamar mandi terdiri dari 4 bilik (seingat saya ahahaaaa..), terletak di luar rumah di samping dapur, airnya melimpah koq, tapi duingiiiiiinnnnn.
- Makan malam disajikan panas oleh kelompok mama-mama bersenyum manis, lalu para tamu akan mengambil makanan masing-masing & makan bersama (biasanya pada makan berkelompok siy, istilahnya nge-geng heheee..). Makanannya sangat nikmat, nasi panas dan ayam kuah kuning, sayur, kerupuk, & sambal (yg pedasnya ampun-ampunan tp bikin nagihnya juga ampun-ampunan ahahahhaaaa..).
MBARU NIANG
Beberapa info tentang Mbaru Niang yang berhasil kami dapatkan :- Rumah adat di desa Waerebo disebut Mbaru Niang, dan rumah paling besar disebut Rumah Gendang (Niang Gendang), tempat dilaksanakannya upacara adat & tempat disimpannya gendang (dan gong) yang akan digunakan sebagai alat musik dalam upacara untuk leluhur.
- Di Desa Waerebo terdapat 7 rumah adat (Mbaru Niang), menurut mereka tidak boleh lebih dari 7.
- Mbaru Niang berbentuk kerucut dengan satu tiang utama bangunan (bongkok) di titik pusatnya, bongkok yg terdapat di bagian dalam rumah tedapat semacam cceruk-ceruk yang berfungsi sebagai tangga untuk naik ke tingkat-tingkat atas. Ujung paling atas bongkok disebut ngando.
- Atap Mbaru Niang terdiri dari jalinan ijuk dan ilalang (yang disebut wehang) yang tebal & berlapis-lapis, sehingga tidak tembus air & angin.
- Mbaru Niang terdapat 5 lantai (tingkat) bersusun ke atas : lantai 1 (tenda) untuk diskusi keluarga, makan bersama, & aktivitas keluarga lainnya; lantai 2 (lobo) untuk menyimpan hasil panen; lantai 3 (lentar) untuk menyimpan benih tanaman; lantai 4 (lempa rae) untuk menyimpan stok bahan makanan jika terjadi musim kering berkepanjangan; lantai 5 (hekang kode) sebagai tempat yang disakralkan, untuk menyimpan langkar sebagai sesajian atau persembahan untuk leluhur. Kolong rumah digunakan untuk menaruh kayu bakar & jemuran biji kopi yg belum kering, juga digunakan sebagai area para wanita yang mau menenun.
- Pembangunan Mbaru Niang tidak menggunakan paku, tetapi menggunakan jalinan rotan sebagai pengikatnya.
- Tiang-tiang penyangga (pondasi) rumah adat ditanam di dalam tanah, bagian terluarnya diikat dengan ijuk dan plastik agar tidak mudah lapuk.
- Di bagian tengah lantai 1 Mbaru Niang, terdapat area dapur, yang asapnya berfungsi untuk semakin memperkuat jalinan ijuk atap.
- Di dalam Mbaru Niang terdapat 6-8 bilik, masing-masing dihuni oleh 1 keluarga.
- Binatang yang disakralkan oleh penduduk Desa Waerebo adalah musang, karena diyakini musang pernah menolong nenek moyang mereka. Nenek moyang penduduk Waerebo berasal dari suku Minangkabau.
- Di tengah tanah lapang, terdapat tanah yang lebih tinggi berbentuk lingkaran & berdinding batu yang digunakan sebagai altar (compang) untuk melakukan upacara persembahan kepada leluhur. Compang tidak boleh dinaiki apalagi diinjak-injak. Ke-7 Mbaru Niang berdiri melingkar menghadap compang.
- UNESCO memberikan penghargaan Award of Excellence untuk Mbaru Niang di Waerebo pada acara UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation tahun 2012 di Bangkok. Penghargaan ini diberikan kepada proyek-proyek konservasi dalam sepuluh tahun terakhir untuk bangunan yang telah berumur lebih dari lima puluh tahun. Mbaru Niang berhasil mengalahkan 42 kandidat lain dari 11 negara di Asia Pasifik.
KISAH PEMUDA BERKULIT HITAM MANIS
Udara malam semakin menusuk tulang, tapi kehangatan & kenyamanan sangat terasa di dalam Mbaru Niang. Feels like home !!!Kami ber-6 asyik bercerita panjang lebar (sampai lewat tengah malam, sodara-sodara ahahaaa..) dengan seorang pemuda bernama Kasius (atau Cassius yaa,, entahlah,, menurut dia nama Kasius adalah versi Indonesia-nya dari Casey seperti Casey Stoner sang pembalap, hihihiiii.. terserah lo deh bang ;p ). Sang pemuda berkulit hitam manis ini sepertinya menjabat sebagai "bendahara" desa ,, terbukti setiap aliran keluar masuk uang yaaa melalui dia, entah itu uang menginap, uang makan, uang beli souvenir hasil kerajinan penduduk Desa Waerebo; uang yang selalu dia bawa-bawa dalam tas berwarna orange :D
Selain sebagai "bendahara", Kasius juga bertugas seperti local guide yang menjelaskan panjang lebar (dan lancar banget) tentang sejarah Desa Waerebo dan detail tentang Mbaru Niang. Dia hafal betul tahun-tahun saat beberapa rombongan mulai mendatangi desa ini. Menurut keterangan dia, awalnya rombongan bule datang ke desa ini karena penasaran melihat hasil foto pemetaan satelit, kerucut-kerucut bulat berwarna hitam inilah yang membuat mereka merasa aneh & akhirnya menyambangi Desa Waerebo.
Melihat kelancaran Kasius memaparkan sejarah & segala keterangan tentang Desa Waerebo & kebudayaan-tradisi warga Waerebo, bahkan kefasihan dia berbicara tentang dunia medsos & teknologi komunikasi, kami penasaran dengan latar belakang dia. Ternyata pemuda sederhana ini SUDAH PERNAH MENGECAP PENDIDIKAN BAHKAN SAMPAI KULIAH. Dia bercerita bahwa dia mengambil jurusan pariwisata saat dia SMA dan ke perguruan tinggi. Dia juga pernah bekerja sebagai pemandu wisata bagi turis-turis yang overland Flores.
Yuppp,, jujur kami kaget, dia yang sudah pernah duduk di bangku kuliahan tidak merasa malu bahkan ikhlas & bangga untuk kembali ke desa asalnya, membangun desanya. Salute !!!
Sempat dibuat kagum juga dengan kearifan lokal warga Waerebo yg dikisahkan dengan sangat apik oleh Kasius (jujur,, saya ga bosan dengar kisah dia, padahal sepanjang hari tadi saya udh cape bgt dlm perjalanan), betapa yang namanya agama-tradisi-kebudayaan itu berbeda namun ga bisa dipisah-pisahkan. Penduduk lokal Waerebo yg 100% memeluk agama Katolik tetap menjalankan ritual agamanya secara setia, namun mereka pun tidak mau melupakan tradisi penghormatan kepada leluhur. Menurut Kasius, leluhur itu seumpama penghubung antara manusia yang masih hidup dengan Tuhan.
Dia mengumpamakan sbb : jika manusia berdoa memohon sesuatu kepada Tuhan, Tuhan akan meminta "pertimbangan" terlebih dahulu kepada para leluhur apakah manusia tsb selama ini berbuat baik & hormat kepada orang tua (dan juga leluhur). Jika jawaban leluhur tsb adalah YA, maka Tuhan akan mengabulkan permohonan sang manusia tsb. Jika kita menghormati leluhur (orang tua), niscaya Tuhan pun akan memelihara dengan baik umat-Nya. Hmmm,, noted, penjelasan yang bisa diterima :)
Warga Waerebo juga percaya bahwa alam disediakan untuk mereka & mereka tergantung pada alam, sehingga alam harus dijaga baik-baik, tidak boleh diganggu, tidak boleh dirusak. Manusia dan alam adalah teman, yang hubungannya harus dijaga & dipelihara dengan baik.
Dan masih banyak kisah seru, lucu, & menarik yang ia sampaikan, mulai dari kisah nyata kehidupan sehari-hari warga Waerebo, hingga kisah "mistis" yang saya tidak tau berapa persen tingkat kebenarannya hihihiii..Yaahhh terkadang memang hal "mistis" susah diterima oleh akal sehat, namun terkadang hal itu memang benar terjadi. Well, believe it or not.
Namun beberapa hal yang saya tangkap & saya kagumi dari mereka : bahwa kita tidak boleh melupakan tradisi & penghormatan kepada leluhur & harus senantiasa menjaga alam. Bahwa warga Waerebo yg hidup sederhana ini, yg tinggal jauh di "pedalaman", sangat terbuka dengan kedatangan para turis ke desa mereka, mereka tidak menutup diri sama sekali, hebatnya : banjir kedatangan turis tidak membuat mereka melupakan adat istiadat & tradisi mereka. Oya,, di desa ini penggunaan TV dilarang sama sekali, listrik berasal dari gennset yang energinya diperoleh dari panel surya.
How I love this village, love at first sight :)
Gerbang Desa Waerebo |
Atap Mbaru Niang dengan ngando sebagai puncak teratas (foto milik sahabat : +Introvert Backpacker ) |
Panel surya sebagai sumber tenaga penghasil listrik warga desa (foto milik sahabat : +Introvert Backpacker ) |
Pak Rofinus sang tetua adat menyambut kami di Rumah Gendang |
Foto bersama dengan tetua adat |
BUDGET YANG DIROGOH DARI DOMPET & KETERANGAN LAIN :
- Sewa mobil (incl driver & BBM) : IDR 600,000 / hari
- Makan siang di Desa Denge (rumah Pak Blasius) : IDR 35,000 / orang
- Kopi / teh di Desa Denge (rumah Pak Blasius) : IDR 5,000 / cangkir
- Sewa kamar di Wejang Asih (homestay milik Pak Blasius) : IDR 200,000/orang/malam
- Biaya porter/local guide : IDR 200,000 / rombongan
- Biaya upacara adat : IDR 50,000 / rombongan
- Biaya inap di Waerebo : IDR 325,000 / orang / malam (sudah termasuk makan malam & makan pagi)
- Waktu tempuh sawah Cancar - Desa Denge : 3,5 jam (kurang lebih)
- Waktu tempuh trekking Desa Denge - Pos 1 : 1 jam
- Waktu tempuh trekking Pos 1 - Pos 2 : 1 jam
- Waktu tempuh trekking Pos 2 - Pos 3 : 1 jam
- Waktu tempuh trekking Pos 3 - Desa Waerebo : 10-15 menit
- CP sewa mobil+driver+BBM : Pak Robert (0812 - 2732 - 0223)
- CP Pak Blasius Monta (tourist information centre + Wejang Asih homestay) : 0813-3935-0775
- Selama trekking, ada petunjuk kilometer jalan yang sudah ditempuh.
- Bapak porter sangat membantu sebagai guide, & juga memastikan apakah kami kebagian makanan, apakah kami sudah makan, apakah kami sudah kedapatan tempat untuk tidur, dll.
- Oiya, saat kami menginap di sana, ada beberapa kecoa yang kami temui sedang asik merayap di atap bagian dalam Mbaru Niang. Secara kami ber-6 kecoa-phobia ahahahaaa,, jadi hal ini cukup mengganggu ketenangan tidur kami. Oleh krn itu bagi kalian yg memiliki ketakutan yg sama sprti kami hehee,, bisa bawa sleeping bag utk menutup seluruh area tubuh supaya bebas dari gerayangan kecoa-kecoa centil hihiii,, itung2 sebagai tambahan penghangat badan ;)
- Yg perlu dibawa ke Waerebo : pakaian hangat, pakaian ganti, botol minum sbg bekal trekking, jas hujan sekali pakai (ponco) kalau-kalau hujan saat trekking.
- Bisa bawa buku-buku juga untuk anak-anak Waerebo, tetapi sebaiknya jangan diberikan langsung kepada anak-anak, melainkan dikumpulkan & diserahkan kepada tetua adat.
- Usahakan jangan memberikan uang ataupun permen & jajanan lainnya kepada anak-anak Waerebo, supaya mereka tidak terbiasa meminta-minta kepada wisatawan.
- Usahakan membawa kembali sampah kalian ke bawah, jangan tinggalkan di Desa Waerebo, karena di desa ini tidak ada petugas sampah yang bertugas mengangkut & mengolah sampah seperti pada umumnya di kota. Terutama sampah-sampah plastik, penduduk Waerebo hanya bisa membakar sampah plastik ini, & akan menimbulkan pencemaran.
SIMAK JUGA ITINERARY & CERITA LAIN KAMI DI FLORES :
- Hari 1 : Desa Moni (Perhentian Sejenak Pelipur Lelah)
- Hari 2 : Danau Kelimutu (Menanti Pagi Di Batas Langitnya)
- Hari 3 : Riung (Main Air & Bertemu Batman)
- Hari 4 : Sawah Cancar (Spider Web-nya Penduduk Manggarai)
- Hari 5 : Waerebo jilid II (Cinta Pada Pandangan Pertama)
- Hari 6 : Labuan Bajo (Seseruan di Tengah Laut Jilid 1)
- Hari 7 : Labuan Bajo (Seseruan di Tengah Laut Jilid 2)
0 comments:
Posting Komentar