Tampilkan postingan dengan label pasir putih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasir putih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2016

LABUAN BAJO : SESERUAN DI TENGAH LAUT JILID 2 (DAY 07)


“He: "Whale you be my valentine?" She: "Dolphinitely.”
Adam Young

JULY 7th, 2016 - PULAU PADAR

Hari ke-2 sailing journey kami diawali dengan menyusuri lautan menuju Pulau Padar.
Kami bertolak dari Kampung Nelayan Pulau Komodo jam setengah 8 pagi WITA. Untunglah cuaca selama kami berada di Flores selalu mendukung, laut pun tampak tenang. Tapi meskipun laut tampak tenang,, lagi-lagi krn kecepatan kapal kami yg "alakadarnya", kami baru tiba di Pulau Padar jam 09.40 WITA.

Kapal pun bersandar di pantainya yang tenang, dan kami lihat dari kejauhan orang-orang ramai turun dari atas "puncak" Pulau Padar. Tinggi juga yaaaa,, pfiuuhhhh...
Oya,, awalnya kami berencana untuk bermalam di Pulau Padar supaya bisa menyaksikan sunrise di pulau ini, & dari hasil konsul dengan orang-orang yang kami jumpai selama perjalanan di Flores pun, mereka mengatakan bisa banget bermalam di Pulau Padar karena perairannya tenang, pantainya menjorok ke dalam sehingga gelombang laut tidak akan sampai ke pantai tsb. Tapi yaaa gitu deh, saat kami mengungkapkan niat kami ke Om Ivan, beliau LANGSUNG bilang ga mungkin bermalam di Pulau Padar karena arus lautnya sangat kencang. Yeaaahhhh,, benar atau tidak, mau ga mau kami tetap harus menuruti perkataan dia :'(

Mendarat di pasir pantainya, langsung cuuusss memulai pendakian ke puncak Pulau Padar.
Tingkat kemiringan jalur trekking awal cukup curam yoo, apalagi medan trekking adalah tanah berpasir dengan batu-batu kecil yg kalau kita salah pijak, malahan bisa bikin kita sukses merosot. Buat yg ngga terbiasa, ga usah sok-sok-an lahh mendakinya, saya pun mendaki dengan posisi membungkuk berbekal pegangan sama rumput-rumput sekitar yg terlihat cukup kokoh tertanam di dalam tanah. Sueeerrrr,, ngeri cuuuyyy..
Satu lagi,, kalau bisa, lebih baik tiba di Pulau Padar pas masih pagi banget. Kami yg memulai pendakian di jam 10 pagi pun rasanya udah puanaaasssss bangeeettt,, sinar matahari benar-benar tajam menusuk kulit, karena seperti landscape pada umumnya di Flores, pulau ini merupakan pulau berkontur bukit-bukit savanna, sehingga tidak ada sekumpulan pohon rimbun yg bisa melindungi kita dari terjangan sinar matahari selama trekking.

Cuaca yang sangat panas menusuk, lembab tingkat tinggi sehingga membuat kulit terasa lengket peliket, gerah tingkat tinggi & keringat bercucuran deras, medan berpasir berkerikil nan curam sehingga hrs sangat hati-hati, adrenalin berpacu karena medan cukup terjal dan tidak ada pagar pembatas sekaligus pengaman sama sekali >> itulah yang harus dihadapi ketika kita mau menyaksikan pesona Pulau Padar & sekitarnya dari atas bukitnya. Namun perjalanan yg cukup menyiksa tsb terobati dengan sajian pemandangan yg wowww bangettt !!! di sepanjang jalur trekking. Di sebelah kiri kita bisa melihat pantai berpasir pink, dan di sebelah kanan terdapat 2 pantai, yatu pantai berpasir hitam dan di sisi lain pulau adalah pantai berpasir putih. SATU PULAU DENGAN TIGA MACAM JENIS PASIR PANTAI !!! Kurang apalagi coba ???!!! Kontur Pulau Padar yang berbukit-bukit hijau kecoklatan berpadu dengan warna laut yang bergradasi biru menjadi nilai tambah pemandangan yg ditawarkan oleh pulau ini. Setiap tetes keringat yang dicucurkan untuk mencapai "puncaknya" benar-benar sepadan dengan view  yang didapatkan. Yaaaayyyy,, we did it !

Oya,, saat kita mencapai "puncak" yg menjadi spot banyak orang untuk berfoto-foto, itu sebenarnya bukan titik tertinggi pulau ini. Tapi ga perlu untuk trekking terus menuju ke titik tertinggi yg bisa dilihat oleh mata, karena saat salah satu teman kami menuju ke titik tertinggi tsb, pemandangan landscape yg terlihat malah tidak sebagus yg didapat di spot foto pada umumnya, karena sudah tertutup oleh perbukitan & pohon-pohon.

Saat turun, harus LEBIH ekstra hati-hati yooo !!!


Jalur trekking

Foto milik sahabat +Introvert Backpacker 

Jalur trekking. Foto milik sahabat +Introvert Backpacker

Pantai berpasir pink

Pantai berpasir hitam di satu sisi & putih di sisi lainnya

Pantai berpasir hitam

Pantai berpasir putih


Satu pulau dengan 3 jenis pasir : hitam, putih, pink. Foto milik sahabat +Introvert Backpacker




JULY 7th, 2016 - PULAU KANAWA

Baca dulu di sini ya..

Kami bertolak dari Pulau Padar jam 11.50 WITA, & langsung melanjutkan pelayaran menuju Pulau Kanawa. Jadi dilemma dari hari kemarin adalah (lagi-lagi karena miskom & kecepatan si kapal) : awalnya menurut Om Ivan dari Pulau Padar kami ga bisa ke mana-mana lagi selain balik pulang ke Labuan Bajo >> kami menolak & akhirnya setelah debat kusir lobi tanpa lelah, Om Ivan memberi kami 2 pilihan setelah dari Pulau Padar, yaitu ke Pulau Kanawa lanjut Labuan Bajo ATAU Manta Point (yg terletak tidak begitu jauh dari Pulau Komodo) lanjut Labuan Bajo >> yg merupakan pilihan yg sangat amat teramat berat sekali, karena Kanawa & Manta Point adalah pilihan kami semuanya >> akhirnya dengan berat hati kami memilih Pulau Kanawa.

Kami tiba di jembatan Pulau Kanawa jam 15.00 WITA & kapal kami langsung dihampiri oleh seorang petugas beerwajah sangat arogan mengenakan kaos polo hitam bertuliskan PT Chiringuita Del Kabron.
---------------
"Mau ke Pulau Kanawa ya ?"
"Iya, Pak"
"Per orang bayar IDR 50,000"
"Lowh koq bayar Pak ? 2 hari lalu kami ketemu rombongan di Waerebo, mereka bilang tidak bayar."
"Hari ini bayar kalau mau masuk ke Pulau Kanawa, pokonya menggunakan jembatan ini untuk nyebrang ke Pulau Kanawa harus bayar IDR 50,000 per orang."
"Ini bayaran ada tiket resminya ga Pak ? Trus bayar kalau kita pakai jembatan ini untuk nyebrang ke Kaanawa kan ? Duitnya memang untuk apa ? Fasilitas apa yang bisa kami dapat memangnya dengan bayar segitu ?"
"Ada tiket resminya dari pengelola Resort Pulau Kanawa. Duitnya untuk menjaga kebersihan pantai. Fasilitas yg bisa didapat Ibu bisa snorkeling di sini dan main-main di pantainya."

.... what ??? snorkeling berarti menikmati keindahan bawah laut salah satu pulau di Indonesia, main-main di pantai berarti menikmati salah satu pantai di Indonesia, terus kenapa kami harus bayar sama pengelola resort swasta ini ????? bukan bayar ke pemerintah setempat ? .....

Kami menolak membayar, & karena tadi si petugas arogan bilang bayar untuk nyebrang pakai jembatan ke Kanawa & untuk main di pantai pasir putihnya, kami memutuskan snorkeling saja di sekitar kapal kami, tidak perlu menggunakan jembatan tsb & tidak main ke pantai Pulau Kanawa. Saat siap-siap mau snorkeling di sekitar kapal .....

"Ehh itu kalian mau ngapain ?"
"Mau snorkeling di sekitar kapal, kami ga jadi nyebrang pakai jembatan itu & ga jadi main ke pulau."
"Ga bisa, kalian tetap harus bayar!"
"Lowh koq gitu ? Kan kami sama sekali ga ke pulaunya, cuma snorkeling di sekitar kapal, & itu masih jauh banget dari pulaunya kan."
"Ga bisa, tetap harus bayar. Kalau kapal parkir di sini juga tetap harus bayar IDR 50,000 per orang"
--------------------

..... what the **** ???!!!! Huuuaaaahhhhh emosi kami benar-benar memuncak, apa-apaan ini, parkir kapal tanpa nyentuh pulaunya sedikit pun tetap harus bayar, ditambah lagi dengan sikap arogansi sang petugas. Karena sudah kesal banget, plus rasanya dipermainkan sama si petugas, kami pun (beserta serombongan ibu-ibu keren berlogat Jawa Timur) langsung angkat jangkar menjauhi Pulau Kanawa, byeeeehhhhh !!!! ........

PS : sebelumnya kami sudah sempat bertanya-tanya kepada orang-orang yg kami temui selama perjalanan di Flores, apakah masuk ke Kanawa itu berbayar ? Ada yg bilang mereka ga bayar, ada yg bilang bayar tapi cuma IDR 25,000 / orang. Dan sekarang kami malah disuruh bayar oleh pengelola resort IDR 50,000/orang. Pulau Kanawa dikelola oleh pemilik resort PT Chiringuita Del Kabron, yang punya orang Italia. Cmiiw,, laut & pulau bukannya milik negara ya, ga bisa dimiliki oleh perorangan ?? Lalu kenapa pengunjung disruh bayar ke pengelola resort swasta, bukan ke pemerintah setempat ? Benar-benar deehhh,, bahkan pengunjung lokal alias turis domestik yg notabene warganegara Indonesia pun dipersulit untuk menikmati keindahan pulau milik negaranya sendiri. Ckck.. Shame on you !!!

Ini dia salah satu petugas arogan pemungut duit IDR 50,000 / orang

Foto milik sahabat +Introvert Backpacker

S***w you, pengelola Pulau Kanawa !!! (-__-")  *sorry, kesal berat soalnya

JULY 7th, 2016 - PULAU BIDADARI

Dengan penuh rasa kesal & dongkol, kami menjauhi Pulau Kanawa sekitar jam 15.25 WITA. Untuk mengobati kekecewaan, kami pun mencoba melobi Om Ivan pulau mana lagi yg bisa kami kunjungi sebentar yang searah dengan perjalanan pulang ke Labuan Bajo.
Mungkin karena kasihan dengan kami, Om Ivan pun menyebut salah satu pulau yg cukup cantik juga, ada resort di pulau tsb, namun ga berbayar untuk main ke pantainya, namanya Pulau Bidadari. Okeeehh siiipp,, lanjut ke sana Om..

Selama perjalanan ke Pulau Bidadari, entah kenapa ombak laut saat itu cukup tinggi. Menyeramkan sekali rasanya melihat kapal kami yang cukup imut ini (ukurannya) naik turun melaju diterjang ombak tinggi di tengah-tengah laut (yang sejauh mata memandang tak ada pulau dan kapal satupun, we're in the middle of nowhere huaaaahhhh..). Air laut berulang kali masuk kapal menyiram tas & baju-baju yg sedang kami jemur, meja & kursi jatuh berkali-kali karena kapal berguncang sangat hebat. Kami ber-6 lantas duduk di lantai kapal, dan............. hening tanpa bicara.

Akhirnyaaaa, every cloud has a silver lining.
Laut pun mulai tenang, kapal pun bisa melaju kencang lagi, kami pun sudah mulai bisa tersenyum & berceloteh lagi, hahahaaa....
Kami tiba di Pulau Bidadari jam 16.20 WITA, sudah cukup sore memang, tapi kami ga mau menyia-nyiakan hari terakhir di laut ini dengan bermalas-malasan bermuram durja. Kapal agak menepi (walaupun tidak bisa bersandar persis di pantainya), sehingga kami harus berenang menuju ke pantai.
Pulau Bidadari memiliki pasir berwarna agak pink juga (walaupun tidak terlalu pink seperti di Pink Beach Pulau Komodo) & butirannya agak kasar. Lautnya jernih, walaupun di area yg kami kunjungi tidak ditemui terumbu karang satupun, hanya laut beralas pasir putih saja. Arus di pantai ini juga cukup tenang.
Kami memang tidak bisa berlama-lama di sini karena hari sudah sore & arus mulai terasa lagi, namun sudah cukup untuk sedikit mengobati kepedihan hati kami hari ini. Kami pun bertolak menuju Labuan Bajo pada pukul 17.00 WITA. See you, Komodo Islands.. :)



Foto milik sahabat +Introvert Backpacker

Foto milik sahabat +Introvert Backpacker







JULY 7th, 2016 - SUNSET AT LABUAN BAJO





BUDGET YANG DIROGOH DARI DOMPET & KETERANGAN LAIN :

  • Sewa kapal 2 hari 1 malam (open deck) : IDR 2,500,000
  • Biaya inap di Komodo Homestay : IDR 150,000/malam/kamar
  • Biaya masuk Pulau Kanawa : IDR 50,000/orang
  • Waktu tempuh Kampung Nelayan (Pulau Komodo) - Pulau Padar : 2 jam 10 min (cat : kecepatan boat kami)
  • Waktu tempuh Pulau Padar - Pulau Kanawa : 3 jam (cat : kecepatan boat kami)
  • Waktu tempuh Pulau Kanawa - Pulau Bidadari : 1 jam (cat : kecepatan boat kami)
  • Waktu tempuh Pulau Bidadari - Labuan Bajo : kurang dari 1 jam
  • CP sewa mobil+driver+BBM dan sewa kapal : Pak Robert (0812 - 2732 - 0223)
  • CP Pak Haji Salang (Komodo Homestay) : 082-144-049-754 / 085-237-113-888 (email : aherkomodo@gmail.com). Pak Haji Salang juga menyewakan kapal open deck IDR 3,000,000/hari.
  • Saat trekking di Pulau Padar, usahakan jangan pakai sandal jepit apalagi sandal-sandal cantik ber-hak, duuhhh jangan coba-coba deh. Saya lebih prefer pakai sejenis sandal gunung atau sepatu kets, soalnya medan trekking di Pulau Padar adalah tanah berpasir, curam, & berbatu-batu kecil yang gampang bikin kamu merosot.
  • Saat trekking di Padar, jangan lupa pakai topi karena puanaaassss puooolll (jangan payung, wong bawa diri sendiri aja susah bgt, ngapain pula repot2 nenteng payung), olesin sunblock atau sunscreen.
  • Bawa botol minum saat trekking di Padar, karena jalur tempuh trekking cukup jauh, udara panas pula. Kalau bawa botol minuman plastik atau jajanan2 lainnya, BAWA TURUN SAMPAHNYA, TARUH DI TAS KAMU, JANGAN NYAMPAH !!!!! Di bawah pohon-pohon di Pulau Padar banyak sekali ditemui sampah botol plastik minuman & bungkus snack.
  • Please jangan kotori alam dengan kotoranmu !!!  

PETA OUR SAILING JOURNEY :

Peta perjalanan kami :)



SIMAK JUGA ITINERARY & CERITA LAIN KAMI DI FLORES :












Rabu, 03 Agustus 2016

RIUNG : Main Air & Bertemu "Batman" (Day 03)

I’m Happiest When Floating In The Sea - Travel Quotes

JULY 2nd, 2016

Setelah mengakhiri Kelimutu trip yg menyenangkan, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Riung, kali ini & seterusnya Bang Yos yg pendiam namun baik hati banget yg bakal jadi driver kami.
Riung ini awalnya belum pernah saya dengar sebelumnya, mungkin masih kurang tenar atau saya yg kurang gaul ttg per-Flores-an hahaaa,, awalnya pun tidak kami masukkan ke itinerary. Namun nasib berkata lain :D,, ga sengaja lagi intip blog-nya Satya Winnie pas beliau berkunjung ke Riung & foto2nya sukses bikin mupeng,, jadi yup fixed langsung masukin Riung ke itinerary kami.

Dari Desa Moni, kami harus kembali lagi ke Ende (2 jam perjalanan), karena rencananya pengen bgt ke Museum Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, tapi sayaaaaaaang,, museumnya tutup kalo weekend huhuhuuuuuu.. Jadi cuma bisa termangu doank di depan pagar museum :'(

Ini penampakan depan Museum Rumah Pengasingan Bung Karno, foto milik sahabat saya +Introvert Backpacker 

Dari Kota Ende, kami menuju ke Mbay, yg perjalanannya makan waktu kurleb 2 jam, dilanjutkan dari Mbay ke Riung selama kurleb 1 jam. Tapi ga kerasa banget, karena pemandangan laut & landscape Flores, terutama savanna-nya ga pernah bikin bete.

Jangan lupa ke spot di mana kita bisa lihat Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dari atas bukit yaa (sesaat sebelum memasuki kota Riung), pemandangannya asli cantik bgt, bikin speechless dunk.
Gradasi warna biru air laut yang tenang di depan mata, sedangkan di belakang kami berdiri anggun bukit-bukit & bentangan savanna, perpaduan warna hijau dan coklat; ditemani dengan heningnya suasana sambil sesekali terdengar bunyi kicauan burung, sungguh sore yang mempesona !!!



 


Savanna indah di mana-mana

Biar ga pegel kaki, foto-foto dulu lah yaaa.. Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker 



Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit

Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung dilihat dari atas bukit


Doing silly pose on the hill ahahaaa (foto milik +Introvert Backpacker )

Kami tiba di Riung, sebuah desa kecil nan sunyi, kira-kira sekitar jam 4 sore WITA.
Di Riung, kami menginap di Pondok SVD, sebuah penginapan asri yang dikelola oleh serikat Katolik ordo SVD.
Penginapan satu lantai ini kami yakini sebagai penginapan terbagus yg kami kunjungi selama perjalanan keliling Flores selama 7 hari hahaaa, bersih banget. Kamarnya juga cukup luas, 1 kamar terdiri dari 1 double bed dan 1 single bed, 1 meja, 1 meja rias, kamar mandi di dalam dengan toilet duduk dan shower, airnya bersih & melimpah, bisa pilih mau kamar ber-AC atau kipas angin. Riung adalah desa yg terletak di pesisir pantai, jadi bisa dipastikan udaranya cukup bikin gerah, makanya kami pilih kamar ber-AC (dan juga selisih harganya ga terlalu jauh dengan kamar yg menggunakan kipas angin).
Fasilitas lainnya ada teras depan kamar, jemuran (lumayan bisa jemur pakaian basah abis nyebur2 di laut di taman penginapan hahaa,, serasa lagi kost), dapat breakfast, disediakan sabun dan handuk. Nikmat mana lagi yang mau kau dustakan hehee..

Abis meneguk teh hangat & letakin tas plus ngobrol dengan Pak Oeden yang besok akan menghantarkan kami naik boat berkeliling pulau, kami langsung jalan kaki menuju ke dermaga untuk menyaksikan matahari terbenam (sunset). Jalan kaki dari penginapan ke dermaga yaaahh kira-kira 20 menitan kali ya.

Kami makan malam di RM Murah Meriah, jalan kaki hanya 5 menit sajo dari Pondok SVD (oiyaaa,, jangan lupa bawa lotion anti nyamuk, kalo malam nyamuknya cukup banyak).
Di RM Murah Meriah wajib cicipin sup ikan segarnya, ueennnaaakk bgt, sedikit pedas namun segar banget, ikannya juga cukup melimpah, ga pelit hahaa. Harganya seingat saya IDR 35,000 per porsi. Tapi pelayanannya cukup lama, entah karena pegawainya cuma sedikit (kayanya cuma 2 orang), atau karena saat itu ada 4 rombongan yg lagi makan di situ.

Perjalanan menuju dermaga

Dermaga Riung yang mungil

Sunset di dermaga Riung (foto milik sahabat : +Introvert Backpacker )

Sunset di dermaga Riung (foto milik sahabat : +Introvert Backpacker )

JULY 3rd, 2016

Setelah sarapan di penginapan (lagi-lagi dapat sarapan banana pancake lowh, sama seperti di Desa Moni hihihii..), sekitar jam 6 lewat WITA kami bergegas jalan kaki menuju dermaga Riung.
Untuk  ngapain ?? Yaaa untuk island hopping di Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung. Yaaaayyy..
Sebenarnya Taman Laut Riung memiliki lebih dari 17 pulau kecil, namun untuk mempermudah ingatan, maka disebutlah Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung, yg angka 17-nya diambil dari tanggal kemerdekaan negara Indonesia.
Kami menyewa kapal dari Pak Oeden yg no telp-nya kami dapatkan dari Ibu Ririn, sang pengurus Pondok SVD. Namun sayangnya, kami hanya punya waktu sampai jam 12 siang huhuhuuuu,, karena kami harus mengejar perjalanan menuju ke Ruteng jika ga mau kemalaman banget sampai di Ruteng.


Muka-muka bahagia mau island hopping (foto milik +Introvert Backpacker )

Crystal clear sea water



Pak Oeden, the captain






Do u want to fulfill ur childhood imagination ? Do u want to get closer to "Batman" ?
Ahahaaa,, kalau jawabannya "ya", let's meet "batman", penghuni Pulau Ontoloe atau lebih dikenal dengan Pulau Kalong. Pulau yang sebagian besar terdiri dari pohon bakau memang menjadi rumah bagi para kalong.
Awalnya saat menuju pulau tsb, kami kira pohon-pohon di situ ditumbuhi dengan daun-daun berbentuk aneh berwarna hitam. Semakin mendekat ke pulau, baru sadarlah kami bahwa itu adalah segerombolan besar kalong yang sedang bergelantungan di dahan-dahan pohon, lagi bobo pagi. Setau saya, kalong itu kalau mau bobo, lebih memilih bergelantungan di tempat gelap, tapi yang ini beda yakk, mereka lebih memilih bergelantungan di dahan pohon di area terbuka yang terkena sinar matahari. Hmmm,, mungkin sembari bobo, mereka juga sekalian sunbathing kalee yaaa..






Setelah takjub melihat penampilan kalong dari dekat, kami beranjak ke spot kedua yaitu Pulau Tembang atau Pulau Tampa. Kami tidak mendaratkan kapal ke pulau ini, tapi hanya snorkeling di perairan sekitar pulau itu. Airnya jernih banget, terumbu karang dan koralnya cukup cantik & bervariasi warnanya, ikannya juga cukup beragam, & dengan mudahnya menemui bintang laut berwarna biru di dasar laut. Kami snorkeling "serius" di sini sekitar setengah jam, sisanya kebanyakan ketawa ketiwi hahaa.


Spot ketiga yang kami kunjungi adalah Pulau Tiga, kata Pak Oeden kenapa disebut Pulau Tiga karena pulau ini memiliki 3 bukit. Setelah kapal merapat ke pantainya, Pak Oeden dan Om Yos sang driver langsung bersiap-siap untuk memasak ikan & cumi bakar. Awalnya kami ingin snorkeling juga di sekitar pulau ini, namun menurut Pak Oeden spot yang bagus adalah spot di sisi kiri kami yang saat itu gelombangnya sedang cukup besar & air juga sedang pasang, jadi kami memilih untuk bermain air di sekitar kapal saja. Di sekitar kapal, ombak tidak terlalu besar, lagipula airnya jernih banget bergradasi biru berpadu dengan dasar laut yang berpasir putih halus. Puas rasanya bermain air di sini plus foto-foto dalam air karena airnya bening.

Pulau Tiga & pemandangan sekitarnya memang cantiiikkkk banget. Pulau Tiga memiliki pantai dengan butiran pasir halus berwarna putih, sehingga nyaman banget untuk dijalani. Duduk di bawah naungan pohon rindangya pun juga asyik, di depan mata terpampang laut biru yang tenang dengan gradasi warna birunya yang dikontraskan dengan landscape Pulau Flores yang didominasi dengan bukit-bukit savanna berwarna hijau dan coklat.

Ga kerasa udah jam 11 siang, dan menu makan siang pun udah tersedia. Ya Tuhan, bau ikan bakar & cumi bakarnya harum bangeeeettt, bikin perut langsung bunyi, liur langsung netes, mouth-watering bangeeettt hahaaa.. Ikan & cumi bakarnya segar ga ada bau amis sama sekali, daging putihnya "manis" seperti ciri sajian laut yg masih segar, dan bumbunya menyerap bangeeetttttttt. Ga sampai setengah jam, hidangan ikan & cumi bakar langsung ludeeesss, bumbunya juga habis dijilatin, durinya habis digigitin, ahahahaaa.... (lapar atau maruk yak..).
PS : Maaf ya Pak Oetam, kami makan dengan lahap di depan bapak, padahal bapak lagi puasa, tapi sueerrr bapak emang T..O..P.. B..G..T.. !!!

Jam 12 siang, dari Pulau Tiga kami langsung kembali ke dermaga Riung, buru-buru ke Pondok SVD untuk mandi, karena kami harus langsung bersegera melanjutkan perjalanan ke Ruteng.
See you, beautiful Riung..









Foto milik sahabat : +Kevin Hendharta 

Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker 
Foto milik sahabat +Kevin Hendharta 

Foto milik sahabat : +Kevin Hendharta 

Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker

Pak Oeden dengan ikan yang akan menjadi santap siang kami

Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker

Ikan bakar & cumi bakarnya maknyoooosss banget, bumbunya nyerap sekali. Pak Oeden emang master chef niy kayanya (Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker)


 Oiya,, ini gambaran Pondok SVD yang kami huni selama 1 malam :








BUDGET YANG DIROGOH DARI DOMPET & KETERANGAN LAIN :

  • Sewa mobil : IDR 600,000 / hari
  • Biaya inap Pondok SVD : IDR 350,000 / malam (double room, AC, incl breakfast)
  • HTM Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung : IDR 5,000 / orang
  • Makan malam di RM Murah Meriah - Riung : IDR 35,000 / porsi sup ikan segar
  • Sewa kapal Riung : IDR 500,000
  • Sewa peralatan snorkeling : IDR 25,000 / unit
  • Biaya makan siang (bakar ikan di pulau) : IDR 50,000 / orang
  • Tips untuk Pak Oeden : IDR 50,000
  • Waktu tempuh Desa Moni - Ende : 2 jam
  • Waktu tempuh Ende - Mbay : 2 jam
  • Waktu tempuh Mbay - Riung : 1 jam
  • Waktu tempuh Riung - Ruteng : 9 jam
  • CP Pondok SVD : Ibu Ririn (0813 - 3934 - 1572)
  • CP kapal di Riung : Pak Oeden (0813 - 3717 - 0473)
  • CP sewa mobil+driver+BBM : Pak Robert (0812 - 2732 - 0223)
  • Kalau bisa, please bgt, begitu sudah sampai di Pulau Kalong (Pulau Ontoloe), jgn sengaja bikin keributan untuk bangunin kalong-kalongnya ya (entah itu dgn suara mesin perahu, pukul2 air, atau teriak2). Kasihan kalong2 tsb. Itu kan habitat aslinya, tempat tinggal mereka, jadi jangan diganggu aktivitasnya. Kalian juga ga mau kan kalau lg asik bersantai atau bobo cantik trus digangguin, heheee.. Respect yourself, respect others :)

SIMAK JUGA ITINERARY & CERITA LAIN KAMI DI FLORES :