Rabu, 10 Agustus 2016

WAEREBO jilid II : Cinta Pada pandangan Pertama (Day 05)

On earth there is no heaven, but there are pieces of it. Jules Renard
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/j/julesrenar165095.html
"On Earth there is no heaven, but there are pieces of it." -Jules Renard


JULY 5th, 2016

Setelah melalui tidur malam yang hangat & cukup nyaman (meskipun awalnya deg2an karena mata selalu tertuju pada para kecoa yg merayap di "langit-langit" rumah hingga akhirnya berusaha bersikap cuek sama para kecoa hehee), kabut pagi & udara sejuk Waerebo menyambut kami.
Matahari bersinar hangat, sinarnya yang masih sedikit terhalang oleh kabut yang menyelimuti perbukitan sekeliling Waerebo menimbulkan aura yang "syahdu" bgt.
Kami buru-buru lipat sleeping bag & cuci muka - sikat gigi, ga mau ketinggalan melihat suasana desa Waerebo di pagi hari (lagipula malu ahhh di rumah orang lain bangun siang hahaaa...).

Para penduduk desa sudah mulai menjalankan aktivitasnya, ada yang menjemur biji kopi di halaman berumput (yup menjadi petani kopi adalah salah satu mata pencaharian utama warga desa Waerebo. Selain dari kopi & pariwisata, sumber pendapatan mereka lainnya berasal dari penjualan jeruk & kain tenun ikat), ada ibu yang menenun di kolong Mbaru Niang, kelompok mama-mama yang bertugas menyiapkan makanan untuk para tamu pun sudah mulai bergelut dengan asap dapur; namun saya belum melihat anak-anak Waerebo bermain di halaman.


Altar suci (compang)



Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker 

Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker 

Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker 

Foto milik sahabat : +Introvert Backpacker

Bayangkan,, di desa terpencil ini bahkan ada petugas pemotong rumput, yang menjaga agar rumput liar tidak tumbuh "kebablasan", agar lapangan rumput ini tetap nyaman untuk dinikmati & beraktivitas

Menjemur biji kopi

Menjemur biji kopi

Menjemur biji kopi


Kami memutuskan naik ke atas bukit, untuk bisa melihat kecantikan Desa Waerebo dari atas. Di atas bukit, ada sebuah rumah (yang hampir mirip bentuk atapnya dengan Mbaru Niang) yang biasa dijadikan spot bagi para wisatawan untuk sekedar menikmati atau mengabadikan keunikan Desa Waerebo dari atas.
Saat saya sampai di atas, di dalam rumah panggung ini terdapat jendela-jendela besar, tumpukan kasur, dan lukisan potret anak-anak Waerebo. Ada yg mengatakan bahwa rumah ini tadinya dibangun untuk dijadikan sebagai perpustakaan bagi anak-anak Waerebo, namun pembangunannya terhenti,, entahlah apakah benar atau tidak.

Ini dia beberapa foto Waerebo yang saya ambil dari spot ini. My dream comes true !!!

Rumah di atas bukit yg dijadikan spot untuk melihat Desa Waerebo dari atas






Puas mengabadikan keindahan desa Waerebo yg SUPERB itu, kami menuruni bukit karena masih ingin memenuhi hasrat bercengkerama dengan anak-anak Waerebo. Sesaat sebelum kami memasuki gerbang Desa Waerebo, kuping kami menangkap suara berisik, tapi bukan suara genset,, yg ternyata adalah..... SUARA MESIN PEMOTONG RUMPUT !!! Wooowww..
Yup,, ada seorang warga yg sedang bertugas memotong rumput dengan menggunakan mesin modern, mungkin bertujuan supaya rumput di halaman Desa Waerebo tetap tertata rapi, sehingga nyaman digunakan untuk beraktivitas bagi warga maupun tamu. Terjawab sudah pertanyaan yg dr kemarin melintas di otak saya ,"untuk ukuran sebuah desa terpencil, koq rumputnya ga liar ya, terlihat rapi seperti serasa di lapangan golf ?" Heheheeee... ;p

Saya & kedua sahabat wanita saya mulai berkeliling desa, & melihat seorang mama sedang sibuk membereskan peralatan mesin tenunnya di kolong Mbaru Niang. Yaaaahhh,, sayang sekali kami tidak sempat melihat cara menenunnya, karena mama harus segera pergi ke ladang (saat kami datang memang sedang musim panen kopi). Menurut sang mama, wanita memang dilarang menenun di dalam Mbaru Niang, sehingga pekerjaan menenun dilakukan di kolong rumah.

Tak jauh dari kolong rumah, kami melihat 3 anak perempuan manis sedang duduk di tangga depan salah satu Mbaru Niang. Kami spontan menyapa mereka.
"Haloooo adik-adik."
"Hi.." (sambil melambaikan tangan dengan senyuman lebar)
"Lagi pada ngapain niy ? Koq ga main-main di halaman ?"
"Ngga, kalau main ke luar, ada adik yang masih kecil nanti ikutan turun tangga ke luar."
"Ga ikutan ke ladang ?"
"Ngga. Kamu mau ambil foto kami ya ? Foto dunk."
.........
(gubraaaaaggg,, rada miris siy dengar kalimat polos ini. Nyata sekali mereka sudah amat sangat familiar dengan kamera yg sering mengabadikan mereka. It's ok siy mnrt saya, tp yg bikin miris menurut saya adlh, kalimat polos ini juga menunjukkan bahwa ga sedikit tamu yg datang ke sini bukan untuk berinteraksi akrab dengan mereka, NAMUN HANYA UNTUK supaya punya foto keren yg instagram-able lalu memamerkannya kepada dunia medsos bahwa mereka sudah pernah lhooo ke Waerebo, miris !!!)
........
"Umm,, fotonya ntar aja ah, masih mau ngobrol-ngobrol dulu dengan kalian. Namanya siapa aja niy ?"
........
Dan berlanjutlah obrolan ringan kami dengan anak-anak lucu ini & polos ini. Di tengah obrolan kami, datang menyusul seorang anak perempuan, 4 orang anak laki-laki, dan seekor anjing berbulu putih yang ikut bergabung dengan "komunitas" kecil kami heheee..
Jujur sekarang saya lupa nama-nama mereka, yg saya ingat hanyalah Adelle (seorang anak perempuan manis berambut pendek, yg suara tertawanya paling kencang & paling riang), Nie (seorang anak perempuan berambut panjang & senyumannya sangat manis walaupun malu-malu), Joy (seorang anak laki-laki periang yang mengaku dgn bangganya bahwa nanti setelah besar dia akan menjadi ketua suku karena dialah yg paling tua di antara kawan-kawannya hihihiiii..).

Mereka seru sekali bergantian bercerita kepada kami bahwa mereka bersekolah SD di Kombo (dekat dengan Desa Denge), & mata pelajaran yang mereka sukai adalah matematika karena gurunya baik, hihihiiii.. Duuuhhh,, tawa mereka yang ringan lepas & riang bikin saya "iri", mereka sangat menikmati hidup tanpa merasa ada beban. Mendengar suara mereka yg ceria banget, saya penasaran ingin mendengarkan mereka bernyanyi.

Lagu pertama yg mereka persembahkan (walaupun hanya beberapa yg menyanyi, yg lainnya masih malu-malu & tertawa-tertawa) adalah lagu Garuda Pancasila.
Ketagihan mendengarkan suara merdu mereka, saya minta lagi mereka menyanyi & kali ini lagunya adalah "Kasih Ibu" dalam bahasa Manggarai (kali ini semakin banyak yg bergabung untuk menyanyi).
Dan sebagai penutupnya, anak-anak ini menyanyikan lagu kebangsaan kita "Indonesia Raya", & di sinilah sontak saya merasa haru, bangga, bahagia, campur aduk pokoknya yang membuat saya "merinding".
Mereka semua ikut bernyanyi dengan suara LANTANG nan merdu, lancar serta fasih sekali. Coba jujur, pasti di antara kita penduduk kota yg mengakunya sebagai masyarakat modern, masih ada yg ga hafal lagu kebangsaan sendiri. Namun anak-anak Waerebo, yg tinggal di tempat yg terpencil, jauh dari kehidupan yg serba modern & mewah, dengan bangga & lancarnya menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Dan yg makin bikin saya bangga, mereka mengucapkan (I)ndonesia dengan fasih, bukan dengan pengucapan (E)ndonesia yg kerap diucapkan oleh orang-orang saat ini.
Angkat topi tinggi-tinggi buat kalian, anak-anak Waerebo :')







Setelah menutup manis perbincangan kami dengan anak-anak tadi, kami dpanggil oleh Pak Matheus untuk makan pagi. Lagi-lagi makanan yg disajikan sangat nikmat endeeeeessss..
Tidak terasa waktu terus merambat menuju siang, & kami harus segera turun karena harus melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo.
Di desa ini, para tamu bisa membeli kenang-kenangan dari Waerebo, antara lain kopi (ini siy kudu wajib dibeli, kopinya enak banget & tidak asam), kain tenun ikat yang dikerjakan oleh kelompok mama-mama Waerebo, tas belanja seperti tote bag, jeruk asli Waerebo, & gelang cincin anyaman.

Aaaahhh,, berat sekali rasanya meninggalkan desa ini. Desa mungil ini sudah berhasil membuat saya jatuh cinta, pada keindahan alamnya, pada keunikan rumah adatnya, pada keramahan penduduknya, pada keceriaan & kepolosan anak-anaknya, pada tradisi & kearifan lokalnya. Di desa ini kami disambut hangat, it feels like home. Tidak ada sinyal hp sama sekali tidak membuat kami merasa terpelosok & mati gaya, krn begitu banyak kehangatan di setiap sudut desa Waerebo.

So long, Waerebo !!!

Berfoto bersama Kasius, sang "bendahara"  (cerita lengkap tentang Kasius bisa dibaca di sini) & Pak Matheus selaku local guide kami






BUDGET YANG DIROGOH DARI DOMPET & KETERANGAN LAIN :

  • Sewa mobil (incl driver & BBM) : IDR 600,000 / hari
  • Makan siang di Desa Denge (rumah Pak Blasius) : IDR 35,000 / orang
  • Kopi / teh di Desa Denge (rumah Pak Blasius) : IDR 5,000 / cangkir
  • Sewa kamar di Wejang Asih (homestay milik Pak Blasius) : IDR 200,000/orang/malam
  • Biaya porter/local guide : IDR 200,000 / rombongan
  • Biaya upacara adat : IDR 50,000 / rombongan
  • Biaya inap di Waerebo : IDR 325,000 / orang / malam (sudah termasuk makan malam & makan pagi)
  • Waktu tempuh sawah Cancar - Desa Denge : 3,5 jam (kurang lebih)
  • Waktu tempuh trekking Desa Denge - Pos 1 : 1 jam
  • Waktu tempuh trekking Pos 1 - Pos 2 : 1 jam
  • Waktu tempuh trekking Pos 2 - Pos 3 : 1 jam
  • Waktu tempuh trekking Pos 3 - Desa Waerebo : 10-15 menit
  • CP sewa mobil+driver+BBM : Pak Robert (0812 - 2732 - 0223)
  • CP Pak Blasius Monta (tourist information centre + Wejang Asih homestay) : 0813-3935-0775
  • Selama trekking, ada petunjuk kilometer jalan yang sudah ditempuh.
  • Bapak porter sangat membantu sebagai guide, & juga memastikan apakah kami kebagian makanan, apakah kami sudah makan, apakah kami sudah kedapatan tempat untuk tidur, dll.
  • Oiya, saat kami menginap di sana, ada beberapa kecoa yang kami temui sedang asik merayap di atap bagian dalam Mbaru Niang. Secara kami ber-6 kecoa-phobia ahahahaaa,, jadi hal ini cukup mengganggu ketenangan tidur kami. Oleh krn itu bagi kalian yg memiliki ketakutan yg sama sprti kami hehee,, bisa bawa sleeping bag utk menutup seluruh area tubuh supaya bebas dari gerayangan kecoa-kecoa centil hihiii,, itung2 sebagai tambahan penghangat badan ;)
  • Yg perlu dibawa ke Waerebo : pakaian hangat, pakaian ganti, botol minum sbg bekal trekking, jas hujan sekali pakai (ponco) kalau-kalau hujan saat trekking.
  • Bisa bawa buku-buku juga untuk anak-anak Waerebo, tetapi sebaiknya jangan diberikan langsung kepada anak-anak, melainkan dikumpulkan & diserahkan kepada tetua adat.
  • Usahakan jangan  memberikan uang ataupun permen & jajanan lainnya kepada anak-anak Waerebo, supaya mereka tidak terbiasa meminta-minta kepada wisatawan.
  • Usahakan membawa kembali sampah kalian ke bawah, jangan tinggalkan di Desa Waerebo, karena di desa ini tidak ada petugas sampah yang bertugas mengangkut & mengolah sampah seperti pada umumnya di kota. Terutama sampah-sampah plastik, penduduk Waerebo hanya bisa membakar sampah plastik ini, & akan menimbulkan pencemaran.  

SIMAK JUGA ITINERARY & CERITA LAIN KAMI DI FLORES :









0 comments:

Posting Komentar